Masukan dari Agustus 2008
Indonesia tanah air beta..
Pusaka abadi nan jaya..
Indonesia sejak dulu kala….slalu dipuja-puja bangsa..
Disana ..tempat lahir beta, dibuai dibesarkan Bunda…
Tempat berlindung di hari tua…sampai akhir menutup mata…
Sabtu pagi itu, 23 Agustus 2008 waktu Kanada, seperti kebiasaan saya di akhir pekan, saya lari pagi dari Surrey Gardens, Callingwood, menuju Wolf Willow road, lalu berbelok ke kanan di jalan setapak menuju daerah berhutan dan pepohonan di daerah Westridge Park.
Begitulah, lagu di awal tulisan ini begitu saja muncul di kepala saya saat dengan nafas terengah-engah saya beristirahat di tempat favorit saya, di jembatan kayu yang menghubungkan jalan setapak di dalam areal hutan itu. Entah kenapa tiba-tiba lagu itu muncul di kepala saya. Mungkin karena suasana areal perhutanan itu mengingatkan saya pada Indonesia. Kok bisa ?? Soalnya, kalo tanpa memperhatikan jenis2 pepohonan di hutan itu, jalanan setapak dan areal perhutanan itu tidak berbeda dengan jalanan setapak menuju Siuhan di Parapat, atau jalanan setapak menuju air terjun Sipiso-piso (kedua tempat ini di Sumatera Utara), atau jalanan setapak di komplek hutan Dago Pakar (Bandung) misalnya.
Dan begitulah, saat saya bernyanyi dan mengulang-ulang dua baris terakhir di lagu itu, tiba-tiba saja mata saya berkaca-kaca dan saya menangis, bahkan sempat terisak.. (lagi…)
Kategori: Lain-lain · Personal matters
Ditandai: Bandung, Dago Pakar, Danau Toba, Ibu Pertiwi, Indonesia, Indonesia Pusaka, Jakarta, Rindu, Siantar, Sipiso-piso, Tanah Air
Saya masih ingat bahwa salah satu pesan ‘sponsor’ yang paling dominan dari saudara-saudara dan keluarga saya sesaat sebelum saya berangkat ke Kanada adalah : “selalu ingat Tuhan, segera cari gereja terdekat sesampainya di Kanada,dan jangan lupa ke gereja setiap minggu”.
Pesan sponsor ini sebagian besar dilandasi kekhawatiran mereka bahwa di negara-negara bule/Barat (termasuk Kanada), nilai-nilai Kristiani sudah mulaiberkurang, orang-orang terutama generasi muda sudah lebih memilih tidak beragama dan tidak percaya akan adanya Yang Maha Kuasa. Apalagi seorang sepupu istri saya yang sedang menempuh S2 di Jerman beberapa kali bercerita bahwa gereja-gereja di Jerman setiap minggu isinya cuma orang-orang yang sudah uzur, jarang ada orang muda apalagi anak-anak muda. Anak-anak muda sudah tidak pengen lagi ke gereja dan umumnya tidak percaya kalau Tuhan itu ada.
(lagi…)
Kategori: Lain-lain · Personal matters
Ditandai: Edmonton, gereja, Jerman, Katholik, Kristiani, misa, Tuhan
Membaca judul di atas, mungkin Anda membayangkan suatu konferensi antar bangsa, atau salah satu rapat dewan keamanan PBB, atau hal-hal ‘besar’ lain sejenisnya.
Tetapi yang ingin saya ceritakan sebenarnya hanya sebuah acara barbeque kecil, di rumah teman baru saya Thai Banh di Edmonton. Dia mengundang kira-kira 8 orang, beberapa di antara mereka datang dengan anak istri. Yang lain (termasuk saya), datang sendirian. Selain dengan Thai Banh dan istrinya, saya belum pernah berkenalan dengan yang lainnya.
Tidak berapa lama setelah saling berkenalan, kami menyadari bahwa Thai Banh, istrinya dan delapan orang yang diundang Thai Banh datang dari sembilan negara dan kebangsaan yang berbeda !!
(lagi…)
Kategori: Personal matters
Ditandai: Edmonton, heritage festival, Indonesia, multi bangsa
Saat sedang di puncak karir di Volex, adik saya yang nomer 4 (Ferdinand), lulus SMA dan memutuskan berangkat ke Yogya buat menempuh kuliah. Berarti sudah tiga orang adik saya yang berada di pulau Jawa. Yang nomer dua menempuh kuliah di UGM, yang nomer tiga menempuh kuliah di IPB, dan sekarang Ferdinand juga ikut ke Yogya. Dengan Ferdinand siap masuk kuliah, mau engga mau budget expense bulanan saya tentu bertambah lagi sekitar 30%. Beda umur saya dengan adik yang nomer dua sekitar 4 tahun, jadi saat di tahun 2002 itu Ferdinand masuk kuliah, adik saya yang nomer dua masih belum bekerja. Otomatis masih saya sendiri yang sudah produktif di keluarga kami buat sokong biaya sekolah sekeluarga (buat yang sedikit bingung, silahkan baca tulisan saya dengan judul “ Andai dulu tidak ada yang mau nyekolahin “).
Sebagaimana perusahaan manufacturing pada umumnya, tentu kenaikan gaji tahunan ada di average 15%, maksimal 20%. Jadi kalau mau kenaikan 30%, saya mau engga mau kembali cari-cari kerjaan baru, plus dengan tambahan niat pindah ke Jakarta. Dengan berada di Jakarta, saya bisa lebih dekat dengan ketiga adik2 saya, sehingga kalau ada apa-apa saya bisa lebih gampang aksesnya.
(lagi…)
Kategori: Personal matters
Ditandai: AIT, Ceria Worley, ISO, LRQA, Volex, WorleyParsons Indonesia, WPI