Masukan dari Oktober 2008
Salam …
Terhitung mulai hari ini, 25 Oktober 2008, halaman Rubrik QMS di Blognya Baja resmi pindah rumah ke www.rubrikqms.wordpress.com .
Kalo orang Batak bilang, ini namanya ‘manjae’, alias memulai kehidupan sendiri lepas dari orangtua..hehe… Kalo dianggap ‘Blognya Baja’ sebagai rumah ortunya Rubrik QMS, maka sekarang Rubrik QMS punya rumah sendiri dan hidup sendiri.
Harapannya, ke depan akan lebih fokus, apalagi pembaca di Blognya Baja ternyata terpisah secara jelas antara yang memang ingin baca Rubrik QMS, dengan yang ingin baca tentang kisah-kisah si Baja…
Terima kasih buat Anda semua yang sudah pernah (dan masih) singgah di sini…Dukungan, ketertarikan dan komentar-komentar Anda yang membuat saya semangat menulis…
Sampai jumpa dengan pembaca Rubrik QMS di rumah barunya…
Salam dan Tuhan berkati,
L.Erwin Baja Simanjuntak
Kategori: All about QMS
Ditandai: ISO, ISO 9001:2000, Lloyds, LRQA, Mutu, QMS, Sistem Manajemen Mutu, SMM
Di bagian pertama saya sudah cerita soal harta pertama yaitu pendidikan.
Bagian kedua ini saya akan bercerita tentang EBA (Emotional Bank Account).
Perkenalan pertama saya dengan EBA sebenarnya sudah cukup lama, waktu saya dapat pelatihan tentang ‘Seven Habits’-nya Stephen Covey, sebagai bagian dari Astra Basic Management Program (ABMP).
Tetapi perkenalan pertama itu terus terang tidak terlalu berkesan, dan memori saya tentang EBA kemudian menguap tidak berbekas.
(lagi…)
Kategori: Lain-lain · Personal matters
Ditandai: ABPM, AIT, Astra, EBA, Emotional Bank Account, Integrity, Life, Seven Habits, Stephen Covey, Volex
Kalau pertanyaan ‘apakah harta yang tiada habisnya’ ditanyakan kepada saya, maka jawaban saya ada 2 (dua) :
- Pendidikan
- Emotional bank account (EBA)
Kenapa jawaban saya seperti itu, sangat terkait dengan apa yang sudah saya alami selama masa-masa menjalani hidup di dunia hingga saat ini.
Yang pertama soal pendidikan adalah berdasarkan apa yang saya lihat terjadi pada keluarga (alm) Bapak saya dibandingkan dengan apa yang terjadi pada Paman saya (marga Situngkir, lihat lagi kisah ‘Andai dulu tidak ada yang mau nyekolahin’ buat yang belum tahu background hubungan saya dengan beliau) dan terutama apa yang saya sudah alami sendiri.
Kakek saya dari pihak Bapak pada suatu masa pernah menjadi salah satu orang terkaya (dalam konteks harta benda) di Pematang Siantar. Jangan kira bahwa orang kaya di Pematang Siantar tidak ada apa-apanya dibandingkan orang kaya di Jakarta. Zaman antara tahun 1960 s/d medio 1970-an itu, tidak ada di Pematang Siantar yang tidak kenal Galang Simanjuntak, alias GS. Berdasarkan cerita, Kakek saya pernah punya rumah sampai 20 pintu di jalan Merdeka (ini jalan protokol di Pematang Siantar, pusat niaga semacam Sudirman). Zaman dulu orang memakai ‘pintu’ sebagai satuan rumah. Kalau seandainya sampai hari ini masih punya rumah sebanyak itu di jalan Merdeka, nilai assetnya bisa mencapai 40an milyar rupiah, dengan asumsi satu rumah sekitar rata2 2 M (saya gak tahu harga sekarang, mungkin lebih). (lagi…)
Kategori: Personal matters
Ditandai: EBA, harta, kaya, Pematang Siantar, pendidikan, Seminari