Di bagian pertama saya sudah cerita soal harta pertama yaitu pendidikan.
Bagian kedua ini saya akan bercerita tentang EBA (Emotional Bank Account).
Perkenalan pertama saya dengan EBA sebenarnya sudah cukup lama, waktu saya dapat pelatihan tentang ‘Seven Habits’-nya Stephen Covey, sebagai bagian dari Astra Basic Management Program (ABMP).
Tetapi perkenalan pertama itu terus terang tidak terlalu berkesan, dan memori saya tentang EBA kemudian menguap tidak berbekas.
Perkenalan kedua adalah beberapa tahun kemudian, ketika saya kembali secara tidak sengaja membaca tentang EBA. Waktu itu saya sedang di masa -masa menyenangkan sesudah melewati masa-masa sulit waktu pertama kali jadi Dept Head di Volex Indonesia (buat yang belum tahu kisahnya, silahkan tilik tulisan saya sebelumnya : Bekerja di negeri orang – bagian ketiga ).
Saat saya waktu itu membaca kembali tentang EBA, pelan-pelan saya refleksikan dengan pengalaman hidup yang sudah saya alami dan saya sampai pada kesimpulan bahwa tanpa saya sadari saya sebenarnya sudah melakukan cara-cara yang disebut Stephen Covey untuk mengumpulkan EBA, dan sekaligus saya sudah merasakan manfaatnya.
Apa itu EBA ? Kalau diterjemahkan secara harafiah, EBA berarti ‘rekening bank emosional’. Tetapi berbeda dengan bank yang kita kenal selama ini, untuk memiliki EBA, Anda tidak perlu uang sama sekali.
Dengan bahasa sederhana, sepemahaman saya EBA adalah suatu tabungan emosional yang Anda akan miliki dalam interaksi dengan orang lain, yang jumlahnya tergantung pada neraca (selisih) antara ‘kebaikan’ yang Anda lakukan secara tanpa pamrih dengan ‘kejahatan’ yang Anda lakukan (baik sadar maupun tidak sadar) pada orang tersebut. Otomatis, semakin sering Anda berbuat ‘kebaikan’ dan semakin jarang melakukan ‘kejahatan’, tabungan Anda akan semakin besar. Demikian sebaliknya, kalau Anda lebih sering melakukan ‘kejahatan’, otomatis tabungan Anda akan berkurang dan malah akan berada di posisi negatif.
Apa maksudnya dengan ‘kebaikan’ tanpa pamrih? Banyak hal, termasuk hal-hal yang kelihatannya kecil tetapi karena Anda melakukannya dengan sepenuh hati dan tanpa pamrih buat orang lain, sebenarnya bermakna besar terutama buat orang itu. Semisal, kata-kata yang baik dan sopan, pujian, menguatkan dan menyemangati orang lain, senyuman dan sapaan, memahami dan emphaty dengan orang lain, perhatian pada orang lain hingga ke hal-hal kecil yang besar artinya buat seseorang (contoh : ingat nama orang yang baru kenalan sekali), senang berbagi dan memberi tanpa pamrih, menjaga komitment dan janji, jujur, terbuka termasuk dalam menyampaikan aspirasi dan ekspektasi, menjaga integritas, berani bertanggung jawab dan mau minta maaf dengan sepenuh hati kalau melakukan kesalahan pada orang lain.
Lalu apa yang dianggap ‘kejahatan’ yang bisa mengurangi EBA ? Gampangnya adalah semua yang berlawanan dengan hal-hal yang dikategorikan ‘kebaikan’ di atas. Kalau Anda sering tidak memenuhi janji, otomatis rekening EBA Anda akan berkurang. Kalau Anda suka bohong, Anda suka menyalahkan orang lain, Anda selalu memberi dengan suatu pamrih, maka rekening EBA Anda akan berkurang, dan begitu seterusnya.
EBA tidak hanya tercipta dengan orang lain dalam pengertian bukan dalam lingkungan keluarga atau orang-orang terdekat Anda. EBA juga berlaku buat orang-orang terdekat Anda termasuk yang berada di lingkungan keluarga. Berlaku dalam hubungan Anda dengan istri/suami, hubungan Anda dengan anak/orangtua, paman, sepupu, dan sebagainya.
Berbeda dengan konsepnya Stephen Covey yang mengatakan EBA bisa habis dan malah negative, saya berpendapat bahwa EBA akan menjadi harta yang tiada habisnya kalau memang pada dasarnya Anda adalah orang baik. Artinya, ‘baik’ itu adalah karakter Anda, sifat dasar Anda, bukan sesuatu yang dibuat-buat untuk suatu kepentingan.
Kalaupun sampai Anda menyakiti hati seseorang atau berbuat jahat kepada seseorang sedemikian rupa, mungkin saja EBA Anda di orang tersebut akan jadi negatif. Tapi kalau memang Anda orang baik, kecil kemungkinan Anda melakukan hal sejahat itu kepada semua orang yang Anda kenal, bukan ? Jadi kalau Anda punya EBA positif di setiap anggota keluarga Anda, di setiap kenalan Anda, setiap orang dalam network Anda, bahkan mungkin kepada orang yang Anda baru temui di jalan, otomatis neraca EBA Anda secara keseluruhan tidak akan pernah negatif dan Anda akan punya harta yang tiada habisnya. Bagaimana bisa habis kalau dasarnya adalah sesuatu yang tanpa pamrih, otomatis gak pernah ‘ditarik’ dan kemungkinan besar malah bertambah terus..
Dalam pengertian lain, saya memandang EBA itu sesuatu yang tumbuh dari kasih yang kita bagikan atau kita tunjukkan kepada keluarga, kenalan, orang lain dan sesama kita. Otomatis ini tidak akan pernah habis kalau kita sering (atau selalu) berbagi kasih tanpa pamrih kepada orang lain.
Saya sampai kepada pemahaman ini berdasarkan refleksi pengalaman hidup saya selama ini, baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan profesional / karir/pekerjaan. Sebagai contoh seperti saya ceritakan tentang masa-masa sulit waktu awal masuk Volex Indonesia, alih-alih membalas resistensi orang-orang di sekitar saya dengan sesuatu yang negatif, saya berusaha berbagi dan menunjukkan bahwa saya orang yang bisa dipercaya dan berintegritas baik sebagai rekan sejawat maupun atasan. Yang saya lakukan waktu itu adalah secara rutin pada rapat bulanan Departemen saya selalu buat agenda setengah jam untuk sharing knowledge. Apa yang pernah saya pelajari di AIT termasuk ilmu-ilmu manajemen ala Astra, saya bagikan dengan anak-anak buah saya, terutama yang sudah di level Ka Shift sampai Supervisor. Efeknya ternyata luar biasa. Anak-anak buah saya yang tadinya resisten atas kehadiran saya sebagai atasan mereka, pelan-pelan mulai menunjukkan respek. Mereka mulai rajin bertanya dan berdiskusi. Semakin saya berusaha membantu mereka mencari jawaban atas pertanyaan atau permasalahan mereka, semakin mereka respect dan akhirnya hubungan profesional dengan anak-anak buah saya menjadi sangat harmonis. Saya juga memberlakukan ‘English Day’ di departemen kami, dan meski English saya tidak bagus2 amat, tetapi dengan membantu mereka latihan dan conversation in English, pelan-pelan rasa percaya diri mereka terbangun dengan rutin latihan berbicara dalam bahasa Inggris. Maklum, urusan dengan Regional staff, supplier dan customers mayoritas harus dilakukan dengan Bahasa Inggris.
Selain itu saya selalu menjaga integritas dan komitment. Saya tidak pernah plin plan di depan anak-anak buah dan saya selalu memperjuangkan mereka jika saya tahu mereka benar. Pekerjaan sebagai QA/QC di manufacturing adalah pekerjaan yang sulit karena harus selalu ’fight’ dengan Produksi, PPC, Purchasing dan Engineering. Tapi sejalan dengan semakin banyak ilmu2 yang diterima team QA/QC termasuk QC inspector di floor, plus semakin confident berbahasa Inggris, pelan-pelan mereka mendapatkan respect dari Departemen lain. Otomatis judgement mereka sebagai QC pun semakin dihargai Departemen lain, termasuk Departemen Head di Produksi (yang expat) dan Dept Head Engineering (yang expat juga). Prinsip2 EBA yang disebut Stephen Covey tanpa sadar sudah saya lakukan dan akhirnya terbukti manjur dalam melalui masa-masa sulit di Volex dan pada akhirnya membantu saya menjalankan tugas sebagai atasan. Dengan EBA yang positif, hubungan saya dengan anak buah dan rekan sejawat menjadi harmonis.
Begitu pula jika kita aplikasikan pada kehidupan pribadi kita, terutama dalam hubungan dengan keluarga. Kasih dalam keluarga menurut saya merupakan sumber EBA yang sangat penting.
Sering kali saat masih anak-anak sampai remaja, EBA diantara sesama saudara neraca positifnya masih sangat besar. Tapi biasanya sesudah pada menikah dan menjalani hidup masing-masing, EBA menjadi berkurang, malah pada akhirnya bisa berujung pada pertengkaran. Ini sesuatu yang jamak terjadi, padahal awalnya mungkin dimulai dari melupakan hal-hal yang kelihatannya kecil tapi sebenarnya berarti besar buat keluarga kita. Misalnya, lupa janji pada saudara, lupa mengucapkan selamat ultah pada saudara, istri, atau jarang komunikasi meski hanya sekedar nanya kabar, dan lain-lainnya. Akhirnya neraca EBA kita dengan sanak keluarga pelan-pelan menjadi negatif. Saat sudah negatif, yang ada adalah hubungan yang tidak harmonis dan berujung pada pertengkaran. Di sekitar kita banyak saudara kandung sedarah yang tidak saling omongan satu sama lain sesudah punya kehidupan masing-masing. Kemana kasih saat masih anak2 dulu ? Jawabannya, menguap bersama neraca EBA yang negatif.
Hal yang sama berlaku dalam hubungan suami dengan istri. Hubungan yang menjadi hambar biasanya tanda-tanda bahwa EBA sudah negatif. Kalau Anda mulai mengalami hubungan yang hambar, cobalah mulai introspeksi kapan terakhir kali Anda memuji suami/istri, kapan terakhir kali Anda berterima kasih pada suami / istri, berapakali Anda ingkar janji pada suami/istri, berapa kali Anda membentak suami/istri atau mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan hati. Saya yakin jawaban untuk hubungan yang mulai hambar adalah ‘tidak pernah’ buat dua pertanyaan pertama dan ’sering’ buat pertanyaan lainnya. Jika hubungan mulai hambar itu tandanya EBA di antara Anda berdua sudah negatif neracanya…. Bagaimana memperbaikinya ? Cobalah mulai menabung lagi supaya neraca kembali positif:-)
Orang memang bisa saja berubah sejalan dengan waktu. Tapi kalau sifat dasar Anda adalah berbagi, berbuat baik dan mengasihi orang lain tanpa pamrih, berintegritas, berkomitment, jujur dan terpercaya, dan Anda setia melakukan semua hal itu, yakinlah bahwa EBA Anda akan semakin bertumbuh ke arah neraca positif. Inilah jenis harta lain yang tidak ada habisnya dan tidak bisa dinilai besarnya dalam ukuran Rupiah, Dollar atau ukuran harta duniawi lainnya. Karena dengan harta yang ini, Anda akan memiliki hubungan jangka panjang yang harmonis dengan orang-orang yang Anda kasihi, orang-orang yang Anda kenal, termasuk orang-orang dalam lingkaran network Anda.
Selamat mencoba membuka rekening bank emosional (EBA) sebanyak-banyaknya dan menjaga neracanya terus bertumbuh positif ….
———SELESAI——————–

3 tanggapan so far ↓
quantumeconomics // November 6, 2008 pada 8:53 am
nice story… would you please visit my blog, read carefully… it contents a unbelievable formula..
shierlynikodemus // November 12, 2008 pada 6:11 pm
wakz…..
setelah baca blog abang ini, baru inget kakakku ulang taon
nabung EBA ah mulai hari ini…..
hehehehe….
jar who ? // Januari 10, 2009 pada 6:07 am
salam kenal mas Baja,
ceritanya inspiratif sekali
senang bacanya…
terimaksih,
edy