Blognya Baja, just an ordinary guy…

TANGIS BAPAKKU…

Desember 23, 2008 · & Komentar

bapakkuSetiap menjelang Natal dan Tahun baru seperti kali ini, ada satu momen yang selalu muncul di ingatanku. Momen itu adalah saat terakhir kali kami merayakan malam Tahun Baru dengan Bapak, sebelum beliau wafat beberapa bulan berikutnya.

Malam itu selalu aku ingat, malam pergantian tahun antara tahun 2005 ke tahun 2006. Seperti biasa, kalau malam tahun baru, kami berdoa bersama dulu sesudah jam menunjukkan pukul 00.00 dan dentang lonceng gereja di seberang rumah kami mulai dipalu.

Sesudah doa bersama, sudah menjadi tradisi di keluarga kami (dan umumnya keluarga Batak lainnya) untuk saling bermaafan dan ‘mandok hata’. ‘Mandok hata’ itu semacam sharing atau mengucapkan sepatah dua patah kata untuk minta maaf atas segala kesalahan, mengucap syukur dan harapan maupun aspirasi buat tahun baru.Yang lebih tua biasanya juga menambahkan dengan sepatah dua patah kata nasehat buat yang lebih muda termasuk aspirasi mereka dan doa-doa mereka buat yang lebih muda. Tetapi tidak diharamkan juga buat yang lebih muda untuk mengungkapkan uneg-uneg ataupun harapannya kepada yang lebih tua, semata supaya saling memaafkan dan sekaligus berjanji lebih baik lagi di tahun berikutnya. Urutan ‘mandok hata’ biasanya dimulai dari anak paling muda sampai paling tua, kemudian Mama, dan terakhir Bapak.

Momen malam tahun baru kali itu benar-benar tidak pernah aku lupakan, karena itulah pertama kali aku melihat Bapak menangis, malah sampai terisak-isak. Ketika sampai giliran terakhir buat beliau ‘mandok hata’, Bapak malah minta maaf kepada kami anak-anaknya, mengungkapkan betapa beliau sayang kami semua, harapan-harapannya buat kami semua dan berkata bahwa beliau sangat bangga punya anak-anak seperti kami. Beliau tidak bisa menyelesaikan kata-katanya dengan sempurna, karena tidak berapa lama beliau mulai menangis hingga terisak. Aku sampai memeluk beliau dan menepuk punggungnya, sampai beliau tenang. Mama dan adik-adik jadi pada menangis juga melihat Bapak menangis.

Luar biasa, karena itulah pertama kalinya aku melihat Bapak menangis. Bahkan waktu Nenek (Ibunya Bapak) meninggal pun aku tidak melihat beliau menangis. Waktu Kakek (Ayahnya Bapak) meninggal, aku baru berusia 3 tahun, jadi tidak tahu apa beliau menangis waktu itu. Tapi menurut Mama, beliau juga tidak kelihatan menangis, apalagi terisak-isak seperti malam tahun baru terakhir kami. Itu pula pertama kali aku mendengar Bapak mengungkapkan lewat kata-kata bahwa beliau sayang kami. Sesuatu yang rasanya tidak mungkin diucapkan oleh seseorang dengan karakter seperti Bapakku.

Ternyata menangisnya Bapak malam itu menjadi pertanda bahwa itulah terakhir kali beliau akan merayakan Tahun Baru bersama kami. Seolah beliau sudah tahu bahwa beberapa bulan kemudian, beliau akan meninggalkan kami buat selamanya. Kami waktu itu tidak mengaitkan sama sekali dengan kemungkinan Bapak berpulang, meskipun tahun-tahun belakangan Bapak sudah mulai sering sakit-sakitan dan badannya yang dulu kekar menjadi kurus. Barulah sesudah beliau wafat di bulan Mei 2006, kami semua sependapat, mungkin Bapak sudah ada firasat pada malam itu.

Kenapa menangis menjadi hal luar biasa buat Bapakku? Bapakku, yang nama aslinya Sahat Manorhon Bangka Simanjuntak, adalah pria Batak tulen yang keras, tegas dan tidak kenal takut. Buat yang mengenal Bapakku di Pematang Siantar, mereka mengenang Bapakku sebagai seorang yang sangar, punya suara menggelegar yang bikin keder siapapun, tidak bisa digertak oleh siapapun, bahkan preman paling disegani di Siantar tahun 70an (namanya ‘Boksa’ kalo gak salah), segan dengan Bapakku. Bapak memang anak bandel yang besar di jalanan, lalu di pasar (waktu dulu masih membantu Kakekku berbisnis rokok), merantau di Jakarta, dan kembali ke Siantar untuk kebanyakan bergaul dengan para preman Siantar. Terkadang ada yang menyebut Bapak sebagai ‘preman’, meski Bapak sendiri tidak merasa ‘preman’. Dia tidak pernah mengganggu orang lain, tidak pernah minta duit sama tauke2 di jalan Merdeka atau Sutomo, tidak pernah ‘ngompas’ (malakin) orang, tidak pernah bikin ribut, dan semua kegiatan ‘ala’ preman lainnya. Bapak cuma seorang pria pemberani yang tidak pernah takut dengan siapapun dan berapa banyak pun orang yang mencoba mengganggunya. “Orang jual, kita beli”, begitu sering kali Bapak berucap.

Kami memanggil beliau ‘Bapak En’, panggilan yang aku berikan sendiri sejak aku kecil. ‘En’ itu maksudnya Erwin, waktu kecil karena aku belum lancar bilang Erwin, makanya manggil beliau Pak En, maksudnya Pak (Bapaknya) Erwin. Panggilan itu kemudian menjadi panggilan akung sayang yang abadi. Kami semua termasuk Mama memanggil beliau dengan sebutan Pak En. Keluarga dari pihak Mama aku juga ikut2an memanggil beliau Pak En. Bapak juga kemudian memanggil Mama dengan sebutan Mama En.

Buat pembaca yang sudah beberapa kali membaca tulisan-tulisan aku di blog ini, tentu ada sedikit gambaran tentang Bapak En. Gambaran yang mungkin muncul adalah bahwa beliau seorang Bapak yang kurang bertanggung jawab, tidak berusaha mencari pekerjaan demi menghidupi anak istrinya, ngambek-an karena tidak dipercaya melanjutkan bisnis keluarga, dan gambaran lain yang sebagian besar kurang positif tentunya.

Dulu waktu masa-masa susah, terutama di masa remaja aku, aku pun sering berpikir seandainya Bapak aku ‘si Anu’, supaya kami tidak hidup susah, supaya aku tidak perlu ngutang, supaya aku bisa kuliah tanpa dibiayai orang lain, dan bermacam andai-andai lainnya.

Bapak En juga tipe orang tua yang tegaan, kalau misalnya dulu kami melapor ‘ Pak,kami engga berani sekolah karena belum bayar uang sekolah’, maka beliau dengan suaranya yang menggelegar (ini salah satu ciri khas Bapakku) akan bilang ‘ gak usah sekolah !!’. Lain waktu kalo kami melapor ‘Pak, engga ada beras buat dimasak’, maka dengan tak kalah menggelegarnya beliau akan bilang ‘ gak usah makan !!’.

Kalau ada hasil sawah atau kiriman duit dari keluarga, maka beliau yang pertama mengambil ‘bagian’. Dan bagian beliau ini (yang terkadang sampai 30% dari total uang masuk) hampir semua dihabiskan buat kesenangan sendiri, utamanya untuk pergi ke kedai kopi berkongkow dengan teman-temannya, dan yang paling utama buat beli rokok. Ya, beliau seorang perokok berat dan rokoknya tidak tanggung-tanggung paketnya. Pasti minimal satu bungkus Djie Sam Soe, satu bungkus Ardath dan satu bungkus Gudang Garam Kretek (yang merah). Biasanya paket ini bisa kelar dalam sehari dua hari. Belakangan ketika beliau meninggalkan Ardath, aketnya berubah menjadi paket 3-1 yang sangat dikenal oleh pedagang rokok di dekat rumah kami. Paket 3-1 artinya, tiga Djie Sam Soe dan 1 Gudang Garam. Pernah kami hitung-hitung duit yang habis ‘dibakar’ oleh beliau menjadi asap rokok, kalau hanya dihitung sejak beliau berumur 30 tahun saja sudah cukup beli satu rumah dan satu mobil.

Zaman beliau masih muda, beliau juga suka mabuk dan baru pulang ke rumah menjelang subuh. Beberapa kali kalo Mama mengunci pintu rumah karena kesal, beliau tanpa malu menendang pintu rumah atau pintu kamar sampai jebol. Sering kalau sudah mabok berat, beliau langsung geletak di lantai, atau langsung muntah-muntah. Mama dan kami lah yang ketiban kerjaan membersihkan muntahan mabuknya Bapak.

Mungkin kalau dituliskan semua ‘kejelekan’ Bapak En, tidak cukup satu buku menuliskannya. Malah salah seorang adik perempuanku memiliki satu diari yang khusus menceritakan apa yang dia sebut ‘masa kegelapan’, saat itu masa-masa paling susah dalam hidup kami termasuk segala ‘kejelekan’ Bapak En.

Tetapi terlepas dari semua ‘kejelekan’ itu, Bapak En yang aku (dan kami semua) ingat adalah Bapak En yang tidak ragu-ragu mengejar-ngejar puluhan anak-anak SMA yang dianggap mengganggu putrinya. Bapak En yang kami kenal adalah Bapak yang dengan mata berbinar-binar bangga menceritakan prestasi sekolah dan kerja anak-anaknya kepada semua orang yang kebetulan datang ke rumah buat ngobrol2, atau saat beliau sedang kongkow2 di kedai kopi. Bapak En termasuk jago bercerita dan senang ber-hiperbola kalau sudah bercerita soal anak-anaknya. Dan semua yang mendengar ceritanya terpesona dan percaya saja kalau anak sulungnya yang kerja di Batam (masa itu) sudah bergaji sekian ribu dollar (padahal kenyataan masih jauh sekali dari bualan Bapak).

Bapak En juga dengan bangganya memakai jam tangan yang aku beli dari gaji aku waktu pertama kali pulang Natal sesudah bekerja di Batam. Jam tangan ini tidak pernah lepas dari tangannya, bahkan (maaf kata), ke WC pun di pakai terus. Begitu pula dengan baju atau apapun yang dibelikan kami sesudah aku dan adik-adikku mulai bekerja dan berpenghasilan.

Bapak En yang kami kenal adalah Bapak yang humoris dan selalu bisa bikin kami sekeluarga tertawa dengan cerita-ceritanya. Semua yang mengenal Bapakku pasti setuju bahwa Bapak En adalah pembawa keceriaan di mana saja dia berada. Bapak bisa bercanda atas apa saja, dan atas topik apa saja. Hampir selalu kalau Bapak En ada di suatu kumpulan orang, semua akan dibikin terpingkal-pingkal karena banyolannya.

Bapak En yang kami kenal adalah Bapak yang dekat dengan anak-anaknya. Sejak kecil meski kami segan dengan Bapak, kami sangat dekat dengan Bapak. Kami bisa bercerita dan bercanda apa saja dengan Bapak tanpa takut beliau tersinggung atau marah. Waktu dulu aku rutin pulang Natal dan Tahun baru ke Siantar sesudah aku lulus kuliah dan bekerja, hampir tiap malam aku dan Bapak menghabiskan waktu cerita-cerita sampai nyaris subuh. Cerita Bapak tidak pernah ada habisnya, mulai dari masa kecilnya, masa remajanya, masa dewasanya dengan berbagai petualangan yang menghebohkan, dan banyak sekali. Meski beberapa cerita adalah ulangan, tetap saja kami semua ingin mendengarnya lagi, dan lagi. Bapak juga paling senang berbicara soal politik, dan banyak waktu kami habiskan membahas politik dengan Bapak.

Bapak En yang kami kenal adalah Bapak yang memberikan rasa terlindungi. Seolah kalau ada Bapak, tidak ada hal jahat yang bisa menimpa kami sekeluarga. Tidak ada satu orangpun yang bisa menjahati kami. Kehadiran beliau memberikan rasa terlindung yang amat sangat. Semata karena kami tahu Bapak En tidak takut apapun, dan tidak pernah gentar untuk membela keluarganya dari apapun juga.

Bapak En yang kami kenal adalah seorang berinteligensia tinggi, jago dalam berhitung dan punya kemampuan analisa yang luar biasa. Zaman orang-orang masih terpukau Suharto di medio 80-an, beliau sudah bilang bahwa Suharto itu perampok dan negara ini akan mengalami krisis kalau Suharto tidak cepat diganti. Kami semua percaya, bahwa ‘gen’ cerdas kami dapatkan mayoritas dari Bapak (tanpa mengurangi rasa hormat kepada Mamaku). Tapi memang faktanya begitu, bukan hanya kami, tapi boleh dikata semua yang mengenal Bapak pasti setuju bahwa beliau seorang yang sangat cerdas.

Bapak En yang dikenal gampang menampar orang lain yang coba-coba ‘menjual’, adalah Bapak yang tidak pernah sekalipun main tangan kepada aku. Bahkan kepada Mamaku dan hampir semua adikku pun seingatku tidak pernah. Satu-satunya yang pernah kena tangan Bapak sekali-sekalinya adalah salah seorang adik perempuanku, dan kejadian itu telah membuat Bapak sangat menyesal hingga ke akhir hidupnya.

Bapak En adalah Bapak yang unik dan satu-satunya di dunia buat kami. Anak-anak lain bisa jadi akan membenci beliau dengan segala kelakuan jeleknya. Tapi buat kami anak-anaknya, beliau tetap Bapak yang kami kasihi dengan sepenuh hati dan kami hormati di atas segala kekurangan beliau. Meski dulu waktu remaja aku sering berharap punya Bapak lain, seiring kedewasaan semakin aku menyadari bahwa sampai kapan pun aku tidak akan pernah menukar beliau dengan Bapak-Bapak yang lain. Jika yang namanya kesempatan kedua untuk menjalani hidup benar adanya, aku tanpa ragu akan tetap memilih dilahirkan sebagai anak dari pasangan Sahat Simanjuntak dan Mamaku. Dari beliau dan Mamaku aku mewarisi DNA yang aku miliki sekarang dan itulah DNA yang tidak akan pernah aku tukarkan dengan siapapun juga dan karena alasan apapun juga.

Begitulah, setiap menjelang Natal dan Tahun Baru, ingatanku selalu kembali kepada Almarhum Bapak En. Lebih terasa daripada kenangan menjelang bulan kematiannya (Mei). Sering kali ingatanku kepada beliau selalu dibarengi mata yang berkaca-kaca, dan tak jarang sampai menangis. Awal-awal beliau dipanggil Tuhan, dalam hati aku sering bertanya kepada Yang Maha Kuasa, kenapa beliau dipanggil begitu cepat. Beliau dipanggil Tuhan justru di saat beliau harusnya sekarang mengalami masa-masa membahagiakan, punya anak-anak yang sudah bekerja, tidak perlu hidup susah kayak dulu, dan punya cucu. Memiliki cucu adalah impian beliau sejak beberapa tahun terakhir, tetapi Tuhan berkehendak lain dan memanggil beliau sebelum merasakan punya cucu.

Aku tidak pernah akan melupakan tangisnya Bapak En malam itu. Seumur hidupnya, mungkin hanya sekali itulah Bapak pernah menangis, apalagi sampai terisak-isak. Tangisnya malam itu sekaligus menunjukkan betapa besar kasih sayang Bapak En kepada kami semua, anak-anak dan istrinya. Tangisnya itu hanya mungkin muncul karena kesedihan luar biasa, ketika malam itu Bapak mungkin berfirasat bahwa itulah terakhir kali kami menghabiskan Natal dan Tahun Baru bersama dan tidak akan pernah ada lagi masa-masa seperti.

Bapak, anakmu merindukanmu…

(Tulisan ini kupersembahkan khusus buat Almarhum Bapakku tercinta, Sahat Manorhon Bangka Simanjuntak)

Kategori: Personal matters
Ditandai: , , , ,

2 tanggapan so far ↓

  • Suminto // Desember 24, 2008 pada 4:14 pm

    Selamat Natal, bang Erwin!

    Tahun 2003 saya bermalam Natal, merayakan Natal dan Tahun Baru di rumah sakit menemani Papa saya yang terkena kanker. Bulan Maret 2004 beliau dipanggil pulang ke rumah Bapa.

    Papa saya tidak meninggalkan banyak warisan berbentuk materi tetapi ada satu wejangan yang beliau sampaikan ketika pertama kali saya bekerja dan saya jadikan prinsip sampai sekarang, “Kamu jangan pernah meminta atau menerima uang yang bukan hak kamu kepada supplier dan pelanggan perusahaan tempat kamu bekerja.”

    Inilah yang saya banggakan dari Papa saya, pria jujur, sederhana dan pekerja keras yang selalu berusaha membahagiakan keluarganya.

  • rahmatfirmansyah // Oktober 8, 2009 pada 6:29 am

    Andaikan “Kami/Kita” disini memiliki figur pemimpin negeri seperti ayah anda Pak Erwin.

    Saat ini memang karakter seperti itulah yang dibutuhkan bukan?!

    Berani, sederhana, jujur, apa adanya, sayang terhadap rakyatnya dan cerdas.

    Jika demikian, tidak perlu waktu lama berdiri Indonesia untuk berdiri dengan gagahnya. Bermartabat, sejahtera, adil, dan mampu menarik penduduk negeri lain untuk datang bekerja di negeri ini.

    Ahhh…., saya akan berdiri dibelakang orang sepert itu jikalau ada.

    :-)
    rahmatfirmansyah.

Tinggalkan sebuah Komentar