Andai dulu tidak ada yang mau nyekolahin..

Aku tidak pernah berhenti bersyukur atas fakta bahwa Tuhan sudah memakai tangan pamanku (sebagai orang Batak aku panggil beliau Bapatua, suami dari Kakak Ibuku) untuk membantu aku meneruskan sekolah dan pada akhirnya bisa menyekolahkan adik-adikku juga.

Nama beliau selalu aku ingat dengan penuh hormat dan terima kasih, Daniel Situngkir. Ya, beliau ini yang berinisiatif menyekolahkan aku saat memasuki jenjang perkuliahan hingga lulus. Inisiatif yang tidak mungkin dilakukan tanpa landasan kasih. Saudara-saudaraku dari pihak Ibu banyak yang jauh lebih kaya, tapi tidak ada yang punya inisiatif seperti yang dilakukan Bapatua. Terhadap keadaan keluarga kami yang sering ‘kembang kempis’ dan tidak akan mampu menyekolahkan anak ke jenjang kuliah, mereka semua cenderung bersikap menyalahkan… menyalahkan kenapa Ibuku menikah terlalu cepat (melangkahi semua Kakak2 dan Abang2nya, padahal Ibuku anak bungsu), menyalahkan kenapa Bapakku tidak punya pekerjaan tetap, menyalahkan kenapa punya banyak anak (kami delapan bersaudara dan aku adalah anak sulung) dan sebagainya. Aku juga tidak bisa berharap banyak kepada saudara-saudara dari pihak Bapakku, keadaan mereka juga tidak kaya-kaya amat dan mungkin sulit buat menyisihkan uang untuk membayari kuliahku.

Tetapi Bapatua Situngkir berbeda dari mereka semua, begitupula istrinya, Kakak Ibuku (Inangtua) juga sama besar cinta kasihnya kepada kami. Beliau percaya bahwa pendidikan adalah modal terbaik untuk mengentaskan kemiskinan. Apalagi beliau melihat bahwa aku punya semangat dan kemampuan untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Dari SD sampai SMA, gelar juara pertama bahkan juara umum hampir tidak pernah lepas dari tanganku. ‘Si Erwin ada kemampuan dan kemauan, sayang sekali kalau tidak dimanfaatkan’,begitu kata Bapatua / Inangtua sebagai pembelaan diri saat saudara2 Ibuku yang lainnya menentang keputusan mereka buat menyekolahkanku.

Begitu lulus SMA, Bapatua dan Inangtua segera menyuruh aku ke Surabaya buat UMPTN di sana. Waktu itu mereka memang sedang berdomisili di Surabaya. Dengan menumpang bis ALS, aku (ditemani Mama dan dua adikku yang paling kecil) pergi ke Jakarta dan langsung naik kereta api menuju Surabaya. Sesampainya di Surabaya, aku buru-buru mengisi formulir pendaftaran UMPTN dan beberapa minggu kemudian aku ikut UMPTN di Surabaya.

Tidak ada yang paling membahagiakan buatku ketika di suatu pagi subuh di hari pengumuman hasil UMPTN, aku membuka koran pagi dan melihat namaku terpampang lulus masuk Teknik Kimia ITB. Semuanya buatku seperti mukjijat, dengan kondisi yang tidak ikut bimbingan atau intensive, dengan kondisi tembak langsung dari P.Siantar untuk ujian di ‘kandang’ orang, aku bisa lulus ke perguruan tinggi yang sudah aku idam-idamkan bahkan sejak masih kelas 3 SD. Aku masih ingat bahwa pagi itu aku, Bapatua dan Inangtua sampai loncat-loncat saking girangnya. Mereka berdua juga sangat bahagia buatku.

Dari sejak berangkat menuju Bandung, pendaftaran kuliah, uang pangkal, uang P4, biaya kost, dan biaya-biaya selanjutnya buat perkuliahan dan hidupku di Bandung, Bapatua Situngkir yang menanggung semuanya. Bahkan hingga biaya wisudaku saat lulus, semuanya ditanggung beliau. Tidak pernah sekalipun beliau mundur dari komitmen-nya untuk menyekolahkan aku. Semuanya tanpa pamrih, pesan beliau hanya satu yaitu supaya kelak sesudah aku lulus dan bekerja, aku harus bisa menyekolahkan adik-adikku yang tujuh orang itu.

Aku terkadang sering berandai-andai tentang apa yang akan terjadi jika saja dulu tidak ada orang sebaik beliau yang mau menyekolahkanku ke jenjang perguruan tinggi. Jika tidak kuliah, setamat SMA sudah pasti aku harus cari kerja. Dengan ijazah SMA, kerjaan seperti apa yang bisa aku dapatkan di kota seperti Pematang Siantar. Jangan-jangan aku akan berakhir menjadi satpam, supir Mopen (ini angkot ala Siantar), tukang kereta sorong, atau tukang becak Siantar seperti beberapa orang yang kukenal yang kebetulan tidak seberuntung aku punya orang seperti Bapatua Situngkir. Dengan kondisi seperti itu, tidak mungkin aku sanggup menyekolahkan adik2ku dan mungkin saja mereka yang perempuan langsung dinikahkan sesudah tamat SMA, dan yang laki-laki bisa saja jadi putus sekolah. Bayangkan saja di zaman sekarang, bagaimana satu keluarga tanpa penghasilan tetap dan anak sulung yang cm tamat SMA, akan bisa hidup dan menyekolahkan tujuh anak lainnya sekaligus??

Tetapi apa yang diberikan Bapatua Situngkir dan Inangtua benar-benar mengubah garis hidup kami. Dengan modal pendidikan yang diberikannya,aku bisa mendapatkan pekerjaan dan pelan-pelan bisa menyekolahkan semua adik-adikku. Adikku yang nomer 2 (perempuan) sekarang sudah jadi lawyer (lulus dari Fak Hukum UGM), yang nomer 3 (perempuan, lulus dari TIN IPB) sudah jadi Supervisor di salah satu perusahaan pembiayaan nasional, yang nomer 4 (laki-laki, lulus dari FTI Atmadjaya Yogya) sudah bekerja jadi Engineer di Batam. Sisanya masih ada yang kuliah di USU (nomer 5), mau UMPTN tahun ini (nomer 6), SMA kelas 2 (nomer 7) dan yang mau masuk SMA tahun ini (nomer 8).

Dengan membiayai pendidikanku, Bapatua Situngkir telah membantu kami menuju kehidupan yang lebih baik. Hidup dan pencapaian kami sekarang, bisa jadi tidak akan pernah terjadi jika dulu beliau tidak perduli akan pendidikanku. Melalui kepedulian beliau, kami semua sudah dientaskan dari kemungkinan masa depan yang suram dan jebakan kemiskinan.

Dan inilah aku hari ini, menuliskan kisah ini dengan penuh rasa syukur bahwa alih-alih menjadi anak-anak putus sekolah dan madesu (masa depan suram), aku dan orang—orang yang aku kasihi bisa hidup seperti sekarang dan memiliki masa depan yang lebih baik. Meskipun masih ada empat orang lagi yang masih bersekolah dan Bapak sudah tiada sejak dua tahun lalu, kami berempat optimis menatap masa depan. Kami percaya kami akan sanggup menyekolahkan mereka semua sekaligus membahagiakan Mamaku….

< Teriring ucapan terima kasih buat keluarga Bapatua Daniel Situngkir dan Inangtua br. Pandiangan >

Iklan

19 responses to “Andai dulu tidak ada yang mau nyekolahin..

  1. maaaaan, im so proud of you, friend!
    jadi inget sebuah film,”pay it forward”: When someone does you a big favor, don’t pay it back, pay it forward! and u’re doing it, buddy!

  2. lohot simanjuntak

    istimewa sekali jiwa amang situngkir itu
    tapi ngomong ngomong ada ngak program pak erwin nyekolahin aku he…4x
    nice story
    mauliate -horas

  3. Tenang Amang Lohot..
    Doakan lah supaya bisa lancar terus rejeki Bapaudamu ini 🙂
    Suatu hari nanti aku pengen bikin lembaga yang bisa bantu mencegah anak2 pintar tapi kurang mampu dari ancaman putus sekolah 🙂 Termasuk lah menyekolahkan kau..hahaha

  4. Andhi..
    You are absolutely right, Dude..
    That’s how goodness shall be spreaded around… 🙂
    Have a nice weekend Ndhi…

  5. lohot simanjuntak

    okelah bapa uda saya doakan
    saya senang akalu bangsa kita ini bisa mengimbangi kemajuan bangsa lain,pernah suatu kali saya ketemu dengan orang yang tidak percaya kalau manusia telah sampai kebulan,waktu itu dia bilang “sampai bungkuk dan bengkok kau mengatakan manusia telah sampai kebulan ,saya tidak akan percaya”kemudian saya disumpah serapahin lagi
    dst….
    mauliate-horas

  6. horas lae ,..
    jadi teringat kisah keluarga saya sendiri, walaupun tidak sepenuhnya sama 🙂

    Memang apa yang kita lakukan bagi orang lain secara tekun pada akhirnya nanti akan berbuah lebat 🙂 ya seperti apa yang Bapatua lae lakukan 🙂

    Tuhan memberkati Lae dan keluarga.
    Salam Kenal

  7. Salam kenal juga Lae David..
    Setelah melalui banyak hal dan membuktikan sendiri, saya percaya penuh bahwa menabur yang baik pasti akan menuai yang baik…

    Salam buat keluarga ya Lae, Tuhan berkati selalu…

  8. SEMYUM MEMBUT KT TAMPAK MANIS , BERDOA MEMBUT KT BETAMBAH KUAT, MEMBERI MEMBUAT KITA BERTAMBAH KAYA, TUHAN YESUS MEMBUAT MENGERTI ARTI HIDUP.
    Bravoo………buat kalian anak laki2 dlm keluarga yg bertanggung jwb sbg pengganti Bapak. krn aku jg sudah dipertanggungjwbkan oleh itoku. skrang mungkin tugasnya tinggal mengawinkan aku saja, he…he…….

  9. Wah, salam kenal @ Ce-Sweet..salam kenal juga buat Itomu ya… Seperti kata orang Batak kepada anak pertama yang kehilangan ayahnya : Holan ho do na hamateon Ama, anggo angka Itom dohot Anggim, ndang hamateon Ama halaki alana ho do gabe Ama to nasida…

  10. >>Holan ho do na hamateon Ama, anggo angka Itom dohot Anggim, ndang hamateon Ama halaki alana ho do gabe Ama to nasida…<<

    artinya apa?google translate batak blum ada soalnya..

  11. Artiny : yang benar2 kehilangan Bapak karena kematiannya adalah engkau (si anak sulung), karena adik2mu itu masih punya Bapak, yaitu engkau yang jadi Bapak buat mereka.. 🙂

    Itu artinya Kang, mudah2an gak lieur lagi ya..hehe

  12. Very Nice Story My Brother……………….

    Aku bangga, sangat bangga diberikan Tuhan Abang yang sangat baik, sangat bertanggungjawab seperti dirimu. You’re the special one My Brother.
    Karya-karya mu selalu menjadi inspirasi buat kami, sekarang aku juga bisa sampai di tahap ini juga karena kasih Sayang mu sebagai Abang buat kami. Thanks a lot.
    Terus terang Cerita tentang Keluarga kita ini sangat menyentuh bahkan mungkin untuk seluruh dunia, karena ini realita dan ini memang kita alami bersama.
    Bang Erwin Selamat buat Karya nya ya,Bang.
    Teruslah berbuat baik dan berkarya seperti yang selama ini sudah Abang lakukan.
    Tiap aku berdoa aku selalu memohon agar Tuhan memberkati Abang dan memberikan Roh Kebijaksanaan untuk terus berkarya dan meraih kesuksesan di negeri yang jauh di Canada.
    Aku senang bisa membaca Tulisan yang Abang ciptakan dengan ketulusan hati ini.
    Kita selalu mendukung dan menunggu karya-karya Abang yang baru lagi he…..he………..

    Sukses ya,Bang Erwin.

    Tuhan Memberkati.

  13. Horas Nand, apa kabarmu di Batam ? 🙂 Semoga makin betah dan tambah sukses dalam pekerjaanmu ya..
    Makasih doanya…tanggung jawabku selama ini menjadi tidak berat karena kalian semua adik2 yang juga bertanggungjawab,tidak menyia2kan kesempatan untuk sekolah dan maju 🙂

    Salam buat kawan2 di Batam ya… Tuhan berkati..

  14. Lae..kisah kita hampir sama. dan seperti yang saya uraikan di blog saya, ortu saya sampai merantau ke batam di usia Tua.

    namun saya bersyukur, DIA pemberi hidup itu, maha tau apa yang terbaik buat kita.

    Sukses Buatmu lae

  15. sebagai manusia yang terlahir dengan setengah darah batak..turut bangga dan terharu dengan cerita ini…

    *Ayah melayu, ibu Batak Br Pasaribu..dan sekarang sudah menikah dengan pria Jawa Betawi*

  16. Waduh, benar-benar multikultural 🙂 Saya turut senang kalau cerita ini memberikan efek yang baik buat semua yang baca…saya ingin memotivasi siapa yang membacanya untuk tidak pernah menyerah dalam hidup, selalu berusaha untuk maju..kata orang2 tua, dimana ada kemauan, di situ ada jalan 🙂

  17. Salam kenal Mas,
    inspiring story.
    saya jg ada pengalaman seperti yg mas ceritakan.

    semoga biaya pendidikan d Indo bs murah … dan juga semoga orang2 qta sadar bahwa pendidikan itu extremely important 🙂

  18. Halo Mas @ Q, ada hubungan apa dengan M yang Bossnya James Bond itu neh ? :-)..hehe

    Di Indonesia harusnya bisa murah, Mas…terutama buat anak bangsa. Kalau pendidikan kita bagus, pasti banyak bangsa lain yang kuliah / sekolah di Indo, dan ini bisa dipake buat mensubsidi anak bangsa…

  19. HORAS.. Salam dari Siantar Man
    Semoga rencana Abang untuk bantu orang2 pintar yg kurang mampu cepat terwujud.. sebagai balas budi buat Keluarga Pak Situngkir.. (:
    Jgn lupa berkarya di Indo Bang, moga kemajuan di negeri orang bs diterapkan di negeri kita…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s