Bekerja di negeri orang.. (bagian kedua)

Perjalanan panjang dari Jakarta menuju Edmonton akhirnya berujung pada tanggal 14 Juli 2008 jam 20.10 waktu Edmonton. Saya berangkat jam 08.40 pagi dari Jakarta di tanggal yang sama, dan setelah menempuh kira-kira 24 jam perjalanan (termasuk total sekitar 6 jam transit di Hongkong dan Vancouver) , mendarat di kota ini masih di tanggal yang sama.. (Jakarta saat itu tentu sudah tanggal 15 Juli 2008, kira-kira jam 7.20 pagi).

 

Akhir perjalanan ini sekaligus awal dari babak baru dalam perjalanan karir saya, yaitu bekerja penuh waktu di negeri orang. Saya sekarang menjadi salah satu dari ribuan TKI yang tersebar di seluruh dunia.

 

Sejak lama, keinginan untuk merasakan hidup di negeri orang (entah bekerja atau melanjutkan sekolah) sudah jadi salah satu target dalam hidup saya. Terlebih sejak saya mulai mengenal ‘dunia lain’ itu sepanjang perjalanan karir saya selama ini.

 

Meski kedengarannya klise, tapi benar saya alami sendiri apa yang saya percaya selama ini bahwa : semua akan indah pada waktunya. Sebelum akhirnya saya mendarat jadi TKI di negeri orang, entah sudah berapa kali saya ‘nyaris’ sampai di sana, tetapi selalu saja ada halangannya.

 

Waktu pertama lulus saja, dosen pembimbing penelitian saya waktu itu memberi tawaran melanjutkan sekolah ke TU Delft di Belanda. Tapi berhubung saya harus secepatnya ‘menghasilkan duit’ supaya bisa mensupport sekolah adik2 saya, tawaran itu tidak pernah saya pertimbangkan. Saya memutuskan untuk segera mencari kerja.

 

Beberapa tahun kemudian, datang lagi kesempatan kedua. Waktu itu (kira-kira tahun 2003) saya ikutan proses seleksi beasiswa British Council. Meskipun dengan modal nekat (saya gak pernah ikutan kursus Inggris apapun sebelumnya, apalagi punya sertifikat TOEFL), saya tanpa diduga2 lulus semua tahapan test sampai akhirnya tinggal tahap interview terakhir. Waktu itu saya sudah sempat menduga, inilah ‘waktu yang indah’ itu. Tapi menjelang interview terakhir, saya telponan dengan Mamaku. Saya ceritakan mengenai ini dan minta doanya, eh dari nada suaranya kelihatannya Mamaku kurang setuju. Pertimbangannya karena adikku nomer 2 ( namanya May), belum lulus kuliah. Jadi kalau saya pergi ke Inggris (yang berarti tidak berpenghasilan), siapa nanti yang support keluarga ?  Saya jadi kepikiran karena kata-kata Mamaku. Akhirnya pas interview terakhir dengan user, saat diberikan kesempatan bertanya saya coba nanya apakah seandainya terpilih bisa minta pengunduran paling tidak setahun? Si interviewer mencoba menjawab diplomatis, tapi intinya adalah TIDAK BISA, karena peminat program ini banyak. Mereka harus memilih berdasarkan urutan prioritas, kalau saya minta pengunduran berarti ini bukan prioritas saya. Keluar dari ruang interview, saya sudah punya perasaan gak enak soal ini. Dan ternyata benar, seminggu kemudian saya terima surat yang menyatakan bahwa saya belum beruntung.

 

Tapi saya tetap optimis bahwa ‘semuanya indah pada waktunya’. Dua tahun berikutnya saya sempat coba lagi ikutan Britis Council, tapi kali ini dipanggil test pun tidak. Padahal katanya kalau sudah pernah lulus test, pasti dipanggil lagi jika kembali mendaftar. Entahlah, memang bukan rejeki kayaknya ..hehe

 

Tahun 2007 benar-benar tahun di mana kesempatan hidup di negeri orang muncul berkali-kali. Tapi kali ini adalah dalam bentuk kesempatan untuk bekerja (baca : jadi TKI), bukan buat sekolah. Saya pernah dapat telpon penawaran kerja di Malacca , tapi setelah ngomong2 soal gaji malah engga ada kabarnya lagi sampai sekarang. Pernah juga interview beberapa kali dengan kantor perusahaan di Brisbane, tapi mentah lagi juga setelah saya kasih tahu ekspektasi gaji. Mungkin mereka pikir karena TKI harusnya mau dibayar murah… L

 

Tetapi kalau saya ingat-ingat, dengan berdatangannya berbagai kesempatan di tahun 2007 itu , sekaligus menjadi pertanda bahwa ‘waktu yang indah’ itu sudah dekat.. J  Akhirnya di awal 2008, saya dapat info bahwa kantor perusahaan kami (WorleyParsons) di Kanada mungkin butuh kompetensi yang saya miliki. Sayapun segera mengajukan lamaran, setelah memberitahu Boss saya bahwa saya berminat ‘di transfer’ ke kantor lain.

 

Setelah melalui berbagai tahapan interview (dilakukan jam 10.00 malam waktu Depok, maklumlah kita beda waktu ), akhirnya di pertengahan Februari 2008 saya mendapatkan yang namanya ‘ offering letter’ alias surat penawaran kerja. Gemetar juga saya waktu baca surat penawaran kerja ini, apalagi pengen tahu apakah ekspektasi gaji dan benefit yang saya minta dipenuhi. Ternyata, Puji Tuhan Halleluya……memang kalau rejeki akan dapat juga, semua sesuai keinginan saya, malah dalam beberapa hal melebihi.

 

Meskipun sudah dapat surat penawaran kerja dan sudah saya tandatangani, tetapi proses belum selesai. Waktunya ternyata belum benar2 indah. Saat itu istri saya sedang hamil dan ternyata tidak diperbolehkan ‘terbang’ jauh ke Edmonton, Kanada.  Plus karena dalam kondisi hamil maka tidak diperbolehkan ikut pemeriksaan kesehatan yang diwajibkan kedutaan Kanada untuk semua orang yang akan tinggal di Kanada lebih dari 6 bulan. Selain itu, saya masih harus berjuang memenangkan ‘perang’ diplomasi dengan Boss saya di Indonesia yang kelihatannya ‘berat’ melepas. Belum lagi harus cari pengganti di Indonesia dan melakukan proses ‘hand-over’.

 

Akhirnya dengan sedikit takut2, saya minta pengunduran jadwal. Saya harusnya sudah mendarat di Kanada awal April 2008. Tetapi sehubungan dengan berbagi hal yang saya sebutkan di atas, mau gak mau saya harus memberanikan diri meminta pengunduran.

 

Saya sempat takut bahwa akhirnya peluang ini akan lepas karena pengunduran jadwal yang saya minta, sementara kantor di Kanada sudah jelas-jelas bilang mereka butuh segera. Tapi akhirnya saya kembali pada prinsip awal yang saya percayai (baca lagi di atas, jangan bosan-bosan dengan kata-kata klise itu..hehe). Saya pun menetapkan hati dan mengajukan pengunduran jadwal kepada calon ‘employer’ saya di Kanada.

 

( Bagaimana kira-kira tanggapan calon ‘employer’ saya di Kanada ? Tunggu cerita berikutnya di bagian terakhir, sekaligus lika liku karir saya sampai akhirnya mendapatkan kesempatan bekerja di negeri orang

Iklan

5 responses to “Bekerja di negeri orang.. (bagian kedua)

  1. Mas Erwin. I love your story…salam dari sesama perantau Indonesia di belahan dunia lain….

    Adhiguna

  2. sukses selalu mas erwin, semoga dapat membawa pengalaman hidup yang bermanfaat untuk kita semua.

  3. Halo Bang Erwin,

    Akhirnya saya sempat juga mapir ke blog kau…selamat ya sudah sampai di Edmonton ternyata…

    Selamat sekali lagi, kau dihargai tinggi setara dengan ornag putih, walauppun warna kulitmu nggak putih, tapi keahlian yang kau punya yang dihargai tinggi.

    Tenang saja, 6 bulan tak akan lama…

  4. Halo Mas Adhiguna,
    Thanks atas kunjungan dan komentarnya 🙂 Saya senang sekali kalau Mas Adhiguna suka dengan cerita2 saya di blog ini.

    Buat Mas @ Resi Bismo,
    Sama-sama Mas, sharing pengalaman hidup antar sesama manusia selalu bermanfaat. Saya tunggu juga sharing dari Mas @ Resi Bismo

    Terakhir buat Mas Donny..
    Akhirnya…Mas Donny sempat juga maen ke tempat saya..hehe.. Itu yang saya suka dengan Kanada, Mas..gak ada klasifikasi atas expat Asia, expat Western…hehe…Semuanya dinilai atas keahlian dan kompetensi.. Salam buat keluarga ya Mas 🙂

  5. Minta info peluang bekerja di Kanada donk. Saya ingin sekali bekerja di sana…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s