Bekerja di negeri orang .. (bagian ketiga)

Di luar dugaan saya, calon employer saya di Kanada ternyata sangat pengertian. Mereka bisa saja dengan mudah bilang ‘take it or leave it’, tetapi sebaliknya mereka malah sangat mendukung pentingnya saya hadir menemani istri saat melahirkan dan beberapa saat sesudahnya. Lega rasanya hati ini saat mendapatkan persetujuan pengunduran jadwal keberangkatan ke bulan Juli 2008.

 

Saya secepatnya memulai proses pengurusan izin kerja, soalnya kata teman2 bisa makan waktu antara 3 minggu sampai 1 bulan. Untuk kasus saya, mungkin karena merupakan transfer ke group perusahaan yang sama, prosesnya lumayan cepat. Saya hitung-hitung sejak saat masukin dokumen sampai keluarnya visa kerja, cuma makan waktu sekitar 2 minggu.

 

Proses yang makan waktu lebih lama ternyata proses mencari pengganti (sedikit ironis juga, padahal katanya di Indonesia banyak sekali pencari kerja ..). Dari sekian banyak CV yang masuk, hanya ada sekitar 6 orang yang dianggap layak buat interview (setelah kira2 1.5 bulan proses cari CV !!). Selanjutnya proses interview yang makan waktu kira2 2 minggu. Dari 6 yang diinterview, 4 dikategorikan ‘waste of time’ oleh Boss saya di Regional. Hanya dua orang yang dikategorikan boleh dipertimbangkan. Milih satu dari antara dua juga proses yang panjang, kira-kira 2 minggu, belum lagi offering, mobilisasi, dan hand-over ..

 

Kalau saya flash back perjalanan karir saya, saya yakin memang sudah diatur Yang Maha Kuasa sehingga jalannya seperti yang saya alami sekarang. Mungkin kalau saya dulu ngotot berpindah karir, bisa jadi karir saya masih begitu2 saja…

 

Saya lulus sebagai Chemical Engineer dari Teknik Kimia ITB, tetapi sejak pertama kerja saya tidak pernah menjadi process engineer atau sejenisnya. Sejak pekerjaan pertama, saya sudah ditugaskan menangani urusan quality. Awalnya sebagai QA Assembly Engineer di perusahaan semikonduktor di Batam. Awalnya perusahaan ini anak perusahaan Astra (namanya AMT : Astra Microtronics Technology) , dan saya masuk sebagai rekrutan Astra lewat AMDI di Sunter. Kira-kira setahun kemudian, perusahaan dijual Astra dan berganti nama menjadi Advanced Microtronics Technology, lalu kemudian berubah nama lagi menjadi Advanced Interconnect Technologies (AIT). Terakhir saya dengar namanya menjadi UNISEM.

 

Terus terang, awal kerja saya dipenuhi idealisme untuk menerapkan ilmu yang saya peroleh dari bangku kuliah. Makanya, tahun pertama jadi QA Assembly Engineer (grade 6) saya udah engga betah. Saya sempat mengajukan internal posting ke Departemen Moulding untuk jadi process engineer, karena menurut saya sebagai orang Teknik Kimia (TK), saya lebih cocok jadi process engineer. Departemen Head QA sudah setuju, Department Head Moulding sudah setuju, HRD sudah setuju,eeeh…tiba-tiba proses di-‘intercept’ oleh Direktur saya, Direktur Quality yang kebetulan sangat powerful di perusahaan. Begitu beliau bilang tidak, selesailah sudah. Tidak ada yang berani meneruskan proses kepindahan saya ke Dept Moulding.

 

Akhirnya, saya jalanilah posisi sebagai QA Assembly Engineer sampai akhirnya naik ke grade 7 kira-kira 2 tahun berikutnya. Harus saya akui, pengembangan kompetensi saya di bidang QA banyak sekali saya dapatkan selama di AIT.

In between, karena masih bergelora idealisme untuk jadi process engineer,  saya sempat juga ikutan proses seleksi BP sampai ke Surabaya. Dari 300an orang (yang rata2 fresh grad), waktu itu saya termasuk diantara 17 orang yang lulus tahap test selama seharian penuh, dilanjutkan interview HR. Saya dijanjikan akan dipanggil buat interview user kira2 seminggu atau dua minggu berikutnya.

 

Terus terang, saya sempat senang banget dan sudah kebayang akhirnya bisa jadi process engineer, di BP pula..!! Tetapi memang tidak jodoh, jalan Tuhan lain dengan rencana saya. Saat saya diberitahu jadwal interview user, ternyata pas harinya dengan saya harus tugas Koor buat perayaan salah satu hari besar di agama saya. Tugas koor ini sudah dipersiapkan dari jauh hari, dan berhubung suara Bass cuma 2 orang, jika saya tidak ikutan pasti jadi timpang.  Saya sudah sempat mau maksa diri pergi ke Jawa buat interview user, tetapi sebelum ambil keputusan saya sempat diskusi dulu dengan atasan saya. Beliau notabene seorang Muslim yang taat, tetapi kata-kata beliau malah telak sekali menyadarkan saya (yang menyebut diri Kristen) bahwa tidak sepantasnya saya menomorduakan sesuatu yang untuk Tuhan, dibandingkan sesuatu yang untuk saya pribadi.  Saya masih ingat bahwa beliau bilang : “Mungkin Tuhan sedang menguji keteguhan imanmu, apakah kau akan tetap percaya bahwa dibalik kemungkinan kegagalan ini Dia sebenarnya mempersiapan sesuatu yang lebih baik buatmu”.  Saya sempat juga mengirim email minta perubahan jadwal, tetapi tidak pernah direspond dan akhirnya saya memang tidak jadi berangkat. Saya memilih ikutan koor J

 

Tidak berapa lama setelah kegagalan ikut interview BP (kira-kira 6 bulan berikutnya), saya mendapatkan tawaran menjadi QA Department Head di sebuah perusahaan electronic yang manufacturing site-nya di Batam lebih kecil daripada AIT. Waktu itu (2001) AIT sedang rada krisis dan katanya kenaikan gaji bakal di-freeze sampai kira-kira 2003. Padahal adik saya yang nomer 3 (Imelda) sudah harus masuk kuliah yang berarti penambahan expense bulanan saya s/d kira-kira 20-30an persen. Jadi, dengan sedikit nekad, saya terima tawaran itu, yang memungkinkan saya mendapatkan kenaikan gaji bulanan hingga 30an persen dibanding waktu saya di AIT. Akhirnya saya pindah ke perusahaan itu, namanya Volex Batam di daerah Sekupang.

 

Yang pasti, saya sedikit shock disodori fakta bahwa dari yang tadinya tidak pernah punya anak buah, tiba-tiba saya punya sekitar 45an anak buah yang kira2 90% lebih tua daripada saya. Kebanyakan sudah berumah tangga pula, dan beberapa dari antara mereka layak saya panggil Bapak/ Ibu.  

 

Awalnya tentu saja benar-benar penuh masa sulit. Saya terus terang mendapat resistensi, bukan hanya dari anak buah, tetapi dari Departemen Manager lainnya. Dua diantara mereka expatriate dan lainnya semua lebih tua daripada saya. Minggu-minggu pertama masuk saja saya sudah dihantam 10 customer complaint yang harus ditindak lanjuti segera, padahal saya masih awam dengan proses di Volex. Selain itu, saya sudah terbiasa dengan semua kenyamanan dan keteraturan saat di AIT, sementara di Volex awalnya tidak saya dapatkan seperti itu. Yang paling sederhana, di AIT makan siang ditanggung perusahaan (ada kantin khusus, cukup pake kupon). Di Volex, saya harus beli atau bawa makan sendiri. Beberapa teman-teman sekerja dan anak buah sendiri malah awalnya suka rada ‘nyindir’ dengan bilang : kok bisa-bisanya orang pindah dari AIT ke Volex, padahal orang lain berlomba2 masuk AIT… (buat yang tinggal di Batam masa2 1998 s/d 2002, tentu sependapat dengan mereka).

 

Masa-masa yang berat di awal masuk Volex dan pengalaman2 selanjutnya ternyata adalah masa paling berharga dalam pengembangan karir saya sebagai Quality professional. Kalau di AIT saya dapat banyak ‘knowledge’-nya, maka di Volex saya benar-benar dapat pengalaman aplikasinya, plus pengalaman bagaimana memimpin orang. Di Volex selain harus ‘ngemong’ 45 anak buah, saya harus menghadapi paling sedikit 30an external audit setiap tahun (Parent company, Customers, product safety, ISO certification, dsb).  Di Volex pula untuk pertama kali saya dapat kesempatan melanglang Asia dalam kapasitas bekerja, bukan jalan-jalan. Saya masih ingat persis bagaimana di suatu sore (hari Minggu) saya ditelpon langsung oleh Quality Director – Volex Asia, dan ditantang menjadi Project Manager/Group Consultant untuk proses sertifikasi ISO 9001:2000/ 14001 di manufacturing sites kami di Thailand, Vietnam dan India. Ini setelah saya berhasil membawa Volex Batam diupgrade sertifikasinya dari ISO versi 1994 ke ISO 9001:2000, dan aktif terlibat dalam proses sertifikasi ISO 14001 di AIT dulu.  Saya dengan mantap menerima tantangan itu, dan dimulailah perjalanan berkali-kali ke Thailand, India dan Vietnam. Semua manufacturing sites itu pada akhirnya sukses mendapatkan sertifikasi ISO 9001:2000 plus ISO 14001:1996. Yang ngaudit bukan sembarangan badan sertifikasi, tapi badan sertifikasi langsung (dan asli) dari Inggris, plus auditor (asli) dari Inggris pula.

 

Ada suatu kebanggaan dan kepuasan profesional tersendiri saat itu, kepuasan yang melebihi imbalan kebendaan atau duit. Apalagi saat melihat bagaimana Managing Director Volex Asia mengirimkan ucapan selamat via email. Saya sendiri terus terang tidak pernah bermimpi bahwa seorang Indonesia seperti saya, kelahiran kota kecil Pematang Siantar nun jauh di Sumatera Utara sana, bisa memimpin dan membimbing ‘bangsa lain’ mencapai sesuatu yang diakui secara internasional. Tidak mungkin kalau bukan karena Tuhan memang sudah merencanakan semuanya di dalam hidup saya dan berkenan menjadikannya begitu. Pasti Dia yang dulu telah menggerakkan hati saya untuk memilih bekerja di Batam daripada menerima tawaran kerja di Jakarta, pasti Dia pula yang menggerakkan hati saya untuk memutuskan pindah ke Volex dan inilah jalan yang diberikanNya.  Mungkin kalau dulu saya memilih ke BP, bisa jadi sampai dua tiga tahun berikutnya saya masih jadi field process engineer nun jauh di tengah laut. Saya tidak bilang field engineer suatu profesi yang tidak baik (uangnya pasti banyak..hehe), tapi dalam konteks pribadi, ternyata dengan memilih jalan lain dalam setahun sejak pindah dari AIT, saya sudah jadi seorang Dept Head dengan pengalaman karir  internasional. Dan terus terang, kata2 ‘international experience’ di CV saya ternyata sangat berharga dalam proses kelanjutan karir saya berikutnya….

 

(Bagaimana kelanjutan kisah karir saya selanjutnya ? Tunggu di bagian selanjutnya, dan kali ini benar-benar bagian terakhir. Saya tadinya mikir bisa selesai sampai bagian ketiga, ternyata lebih panjang daripada yang saya duga..maaf ya pembaca..hehehe)

Iklan

22 responses to “Bekerja di negeri orang .. (bagian ketiga)

  1. Hello Mas Erwin,

    Senang sekali membaca pengalaman merantaunya ke Kanada.
    Asalnya jg dari Pematang Siantar y?
    Saya jg dari Pematang Siantar. 2 tahun ini nyangkut di Croatia. Akhir tahun ini mungkin akan pindah ke Sharjah, UAE.

    Salam,

    Effendy

  2. Salam kenal juga Mas Effendy..
    Benar sekali, saya asli Siantarmen..hehe
    Selamat ya atas tempat kerja barunya..kapan2 kalo pas mudik ke Siantar, kali aja bisa ketemu 🙂

  3. Baru tahu ternyata begitu ceritanya….

  4. ooh sekarang dah di Canada Mas? waaaah jauh yaaa? Canada di bagian mana?

  5. Perjalanan karir Lae ternyata kait-mengkait dengan kehidupan spiritualnya. Aku sangat mengagumi keberanian dan keteguhan hati Lae untuk mengorbankan peluang promosi, karena komit pada Koor dan solider kepada teman-teman. Teguran dari atasan itu hanya pemicu saja, toh yang mengambil keputusan itu Lae.’

    Sepintas lalu cerita pengalaman Lae ini seperti bermain dengan kemungkinan, sambil menikmati advantage dari perubahan besar di perusahaan yang semula tak teramalkan. Tapi menurutku ini adalah sejarah spiritualitas Lae, dan memang itulah yang paling berharga.

    Kelak kalau ajal menjemput, orang sukses atau yang gagal sama saja tetap berakhir menjadi NOTHING. Tapi aku yakin pencapaian spiritual kita tidak ikut dikubur dan dimakan bakteri.

    Selamat berkarya Lae. Horas.

  6. hora lae,
    mantap coi..selamat ya,
    ntar klo udah balik jangan lupa oleh-oleh…
    salam
    leonard hasugian

  7. Hi semua, thank sudah menyempatkan waktu mampir di sini..

    @ Agung Cahyawan,
    Ya begitulah Jung, sekarang kau tau cerita sebenarnya. Waktu itu kau mungkin kaget juga kenapa aku keluar dari AIT..hehe

    @ Chic,
    Benar Mbak, makanya waktu itu saya bilang salam dari jauh:-) Saya tinggal di Ibukota Propinsi Alberta, Canada, nama kotanya Edmonton..

    Buat Lae Robert Manurung
    Thanks atas postingnya Lae. Saya sependapat dengan paragraph terakhir di posting Lae, terlebih kalau kita bisa share itu dengan orang lain, akan menjadi ‘warisan’ yang tetap dikenang:-)

    Buat Leo Hasugian,
    Baliknya belum tau kapan Leo, nanti kalo pulang ke Siantar aku kasih tau pun ke kau 🙂

  8. bang aku dulu juga dr ait dr thn 94 ampe 2002 akhir met kenal lagi ya , aku skrg di portek system singapore ngurusin alat berat container crane ok gitu aja ya bang kalo ada job di canada aku di kabarin ya thanks.

  9. Di bagian apa dulu Mas Tri ?
    OK, kalo ada info yang relevan tentu saya kabarin..

    Salam,

  10. Halo Bang Erwin,

    Salam kenal ya.
    Aku cukup tertarik dengan cerita di AIT.
    Jujur aja aku sekarang lagi ingin mencoba nasib di Batam.
    Kalau boleh, aku minta tolong ya kalau masih ada alamat contact atau e-mail teman Bang Erwin di AIT.
    Aku bagian IT Programmer Analyst gitu.

    Salam.. 🙂

  11. Hi Ade,aku blh minta alamat email mu ga, jd aku bs langsung japri aja.Gak etis kalau aku nyebarin alamat email teman via WordPress:)
    Salam kenal ya,makasih sdh maen ke sini:)

  12. apakah saya juga harus keluar dari PT. UNISEM Batam untuk bisa sukses seperti OM BAJA?

  13. Wah, Mas @ Vanudin,
    Jangan disimpulkan begitu donk..nanti saya kena marah Pak Arif..hehe
    Saran saya, kalo sudah grade 9 ya jangan pindah lagi..tapi mulai perbanyak passive income kayak web design yang Mas tekunin…nanti kalo cukong UNISEM tiba2 mau lay off, sudah ada back up tho… 🙂

  14. Wah elo iri ama gue,ipank,mas jacky yah win…:-)….Jadi mau masuk molding.

    Duhhhh enggak nyangka elo sekarang nyangkut di negeri orang…hahahaha

    Gue jadi kangen ama batam juga nih win…:-)

    Meeting dimana …glass room apa pujasera…

  15. Hahaha…Man, eloe di mana sekarang ? Paling enak ya di Pujasera atau di toko roti itu (lupa namanya) sambil ngopi2..hehe

  16. Mas Erwin, cerita yg menarik hehe segala sesuatu indah pada waktunya ya ?
    ada lowongan IT kaga di kanada? saya mau dong hehe kalo ada boleh ngga saya submit resume 😛

  17. Kisah dan Pengalaman lae Baja sungguh sangat menggugah semangat dan memberi banyak inspirasi bagi saya untuk selalu berjalan dalam rencana indah-Nya. Saya juga pernah bekerja di Volex Batam (FYI… Saya bekerja di Volex dari Agustus 2002 sd Agustus 2007 ).Agustus 2007 saya meninggalkan Volex dan memilih untuk lanjutkan sekolah ke Perancis . Sudah hampir 1thn 6bln saya tinggal di negeri orang ini dan terkadang saya sedikit kehilangan keyakinan diri dengan semua yg saya sedang jalani,terkadang saya menyesali apakah keputusan saya untuk belajar di Perancis adalah pilihan yg tepat.Namun SETELAH membaca kisah pengalaman Anda, ada sebersit sinar pengharapan dan semangat baru bagi saya dalam melihat bahwa dibalik semua keputusan dan kisah hidup yg kita jalani saat ini pasti kelak kita akan mengerti bahwa dibalik kisah itu pasti ada sesuatu rencana terindah yg akan kita mengerti dari-Nya. Terima kasih buat postingan Anda yg sangat memberkati saya. Tolong ajari-ajari saya ya lae supaya bisa jadi orang baik dan tidak sombong juga bisa berprestasi seperti Anda. Salam,Abdy

  18. Hi, nice post. I have been thinking about this issue,so thanks for writing. I will certainly be subscribing to your blog.

  19. @ Silverbullet
    Sayangnya sekarang lagi krismon, jadi lowongan rada seret apalagi buat pelamar dari luar Kanada. Tapi kalau ada info tentu dikabarin 🙂
    @ Abdy
    Aku sudah koment di FB Lae ya..yang penting yakin dengan pilihan yang kita ambil, sambil minta Tuhan menemani kita dalam menjalaninya dan percaya bahwa Dia pasti memilihkan yang terbaik buat kita.
    @wzlcm
    Thanks for visiting this blog and I am glad that my writing has helped you somehow 🙂

  20. pengalman anda akan qjadikan insprasiq dlm mencari apa artinya hidup. makasih udah mw berbagi kisah.

  21. @ Salu
    Makasih Mas (atau Mbak) atas kunjungan dan komentarnya. Saya percaya setiap manusia punya kisah yang bisa jadi inspirasi buat manusia lain 🙂

  22. Win, AKU masih ingat ceritamu saat dulu lagi ngopi bareng soal preman bertato dilengan kiri dan kanan tertulis “JAGAL KOTA” ……tapi saat baju kaosnya dibuka ternyata ada tatto sambungan di badannya….terbaca jadi “JAGALah kebersihan KOTA”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s