(Ternyata) Bukan hanya yang uzur yang mengisi gereja di Edmonton..

Saya masih ingat bahwa salah satu pesan ‘sponsor’ yang paling dominan dari saudara-saudara dan keluarga saya sesaat sebelum saya berangkat ke Kanada adalah : “selalu ingat Tuhan, segera cari gereja terdekat sesampainya di Kanada,dan jangan lupa ke gereja setiap minggu”.

 

Pesan sponsor ini sebagian besar dilandasi kekhawatiran mereka bahwa di negara-negara bule/Barat (termasuk Kanada), nilai-nilai Kristiani sudah mulaiberkurang, orang-orang terutama generasi muda sudah lebih memilih tidak beragama dan tidak percaya akan adanya Yang Maha Kuasa. Apalagi seorang sepupu istri saya yang sedang menempuh S2 di Jerman beberapa kali bercerita bahwa gereja-gereja di Jerman setiap minggu isinya cuma orang-orang yang sudah uzur, jarang ada orang muda apalagi anak-anak muda. Anak-anak muda sudah tidak pengen lagi ke gereja dan  umumnya tidak percaya kalau Tuhan itu ada.

Begitu sampai di Edmonton, saya segera sadar bahwa pesan sponsor tentang cari gereja bukan sesuatu yang sulit di lakukan. Di Edmonton, yang namanya gereja banyak sekali dan boleh dikata ada di mana-mana. Kalau istilah hiperbolanya, hampir setiap 100 meter ada gereja dan dari bermacam-macam denominasi.

 

Karena saya seorang Katholik, saya coba cari gereja Katholik terdekat. Ternyata tidak sulit juga dan dalam jarak kira-kira 12 menit jalan kaki, saya sudah ketemu gereja Katholik. Di dekat gereja Katholik itu saja saya temukan paling sedikit 3 gereja lainnya (ada Lutheran, Presbytarian, dsbnya).  

 

Yang menarik, fenomena seperti diceritakan sepupu istri saya yang di Jerman itu ternyata tidak saya temukan di kota ini. Paling tidak fenomena seperti itu tidak saya temukan di “ Good Shepperd Catholic Church” tempat saya rutin hadiri misa setiap minggunya.  Setiap minggu, gereja ini diisi berbagai ragam orang, dari segala jenis usia dan ras. Menyenangkan rasanya melihat misa di gereja ini juga dihadiri bayi, anak-anak kecil, remaja, pasangan suami istri dan keluarga muda, single available maupun not available (seperti saya misalnya) di usia setengah baya,  sampai mereka yang sudah sepuh dan uzur. Bicara soal ras, mulai ras yang berasal dari Afrika, Asia (terutama Philippinos, Cina dan India), Eropa, Australia, sampai orang2 kelahiran Kanada ada di gereja ini. Rata-rata orang di gereja ini mengira saya Philippino, jadi suka surprise juga mereka setelah tahu saya dari Indonesia. 

 

Dengan melihat keadaan di atas, saya diam-diam merasa bersyukur dan tumbuh semacam keyakinan dalam diri saya bahwa nilai-nilai Kristiani masih coba dipelihara di segala golongan usia, dan yang paling penting lagi masih coba dipelihara di dalam keluarga-keluarga. Mungkin keadaan di Kanada, terutama di kota Edmonton ini tidak (atau belum ??) separah kondisi yang ditemukan sepupu istri saya di Jerman. 

 

Memang tidak ada jaminan bahwa rajinnya seseorang ke gereja membuktikan bahwa seseorang itu sudah jadi seorang Kristen yang baik. Saya pribadi percaya bahwa iman seseorang itu dinilai dari ‘buahnya’, dari perbuatan yang dilakukannya, terutama buat sesamanya. Hal yang sama saya yakin berlaku buat agama lain. Nilai keimanan mereka harusnya terlihat dari perbuatannya, terutama kepada sesamanya. Sejauh ini yang saya temukan di Edmonton, orang-orangnya baik, ramah dan sangat mau menolong terutama kepada orang-orang asing. Ini saya temukan bukan hanya pada yang bule-bule, tapi juga pada kawan-kawan dari Iran, India, Afrika dan berbagai negara lainnya. Saya rasa ini pertanda bahwa mereka semua orang yang beriman, terlepas dari apapun itu agama atau sesuatu yang dipercayainya.

 

Meskipun demikian,  dengan melihat bahwa anak-anak, remaja dan orang-orang muda di Edmonton juga rajin ke gereja, sedikit banyak ada indikasi bahwa mereka tetap percaya akan keberadaan Tuhan serta percaya akan nilai-nilai Kristiani yang diajarkan orangtuanya. Kalau gak percaya, pasti mereka tidak akan ikutan misa di gereja. Di negara yang sangat memandang tinggi HAM ini, jangankan memaksa pergi ke gereja, menjewer anak sendiri saja (katanya) orangtua tidak diperbolehkan. Jadi, kalo anak-anak remaja dan muda mudi ini pergi ke gereja, kemungkinan besar karena keinginan sendiri, bukan karena dipaksa.

 

Dua pesan sponsor sudah saya jalankan dan sejauh ini masih rajin ke gereja J Sementara pesan yang pertama (tentang selalu ingat Tuhan) buat saya selalu merupakan perjuangan iman yang tiada hentinya. Sebagai manusia sering kali alpa dan lupa akan Dia, dan bersyukurlah saya karena Dia Maha Rahim dan Pengampun terhadap hambaNya yang suka jatuh dalam dosa ini. Perjuangan iman untuk selalu ingat Tuhan saya yakin tidak akan pernah berhenti, sampai akhirnya kelak perjalanan saya di dunia ini berakhir…

 

Iklan

9 responses to “(Ternyata) Bukan hanya yang uzur yang mengisi gereja di Edmonton..

  1. Masalah Iman Kristiani menjadi sesuatu yang cukup serius di luar negeri, berbeda memang dengan asia.
    Perlu doa dan kuasa Allah untuk mengubah ini.

    Salam.

  2. horas ,,,

    saya tak menyangkakehidupan beragama sangat baik disana. thanks saya jadi termotivasi mengikuti jejak pak juntak

  3. Horas Lae Aritonang,
    Saya belum berani mengklaim ‘sangat baik’ Lae, saya khan baru liat sampel di satu gereja 🙂
    Tapi setidaknya saya rasa di Edmonton sini masih lebih baik daripada di tempat sepupu saya di Jerman itu…

    OK Lae, tetap semangat…nanti kalau sudah ketemu di sini bisa sama-sama masak saksang..hahaha

  4. halo ito…
    saya jd tertarik berkunjung ke “ Good Shepperd Catholic Church”…
    kebetulan saya seorg katolik jg…
    Jesus bless.

    salam

  5. wah,di Edmonton jg Tok? Misa Minggu pagi di gereja ini jam 8.30 dan 10.00 pagi.

  6. Info yang baik,
    Edmonton,Alberta, Canada ……. postingan yang menarik untuk di baca .

    Salam !

  7. Shalom,

    Mungkin kecenderungan hanya orang tua yang ke gereja terjadi di Eropa. Soalnya saya skrg di Belanda jg melihat hal yang sama dengan yang dilihat saudara di Jerman itu. Syukurnya di gereja internasional, karena banyaknya mahasiswa, masih banyak anak muda juga 🙂

  8. Salam kenal dan Shalom buat Mas @ Credo…
    Kelihatannya emang kecenderungan itu ada di Eropa, begitupula di Australia kata temen saya yang tinggal di sana..

    Mudah2an di Kanada sini masih tetap seperti sekarang sampai bertahun2 ke depan 🙂

  9. pengalaman yang sam saya alami ketika menghadiri misa di Gereja Kathedral di brisbane,, kaum mudanya berjubel dan sangat antusias

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s