Indonesia, sampai akhir menutup mata..

Indonesia tanah air beta..

Pusaka abadi nan jaya..

Indonesia sejak dulu kala….slalu dipuja-puja bangsa..

Disana ..tempat lahir beta, dibuai dibesarkan Bunda…

Tempat berlindung di hari tua…sampai akhir menutup mata…

 

Sabtu pagi itu, 23 Agustus 2008 waktu Kanada, seperti kebiasaan saya di akhir pekan, saya lari pagi dari Surrey Gardens, Callingwood, menuju Wolf Willow road, lalu berbelok ke kanan di jalan setapak menuju daerah berhutan dan pepohonan di daerah Westridge Park.

 

Begitulah, lagu di awal tulisan ini begitu saja muncul di kepala saya saat dengan nafas terengah-engah saya beristirahat di tempat favorit saya, di jembatan kayu yang menghubungkan jalan setapak di dalam areal hutan itu. Entah kenapa tiba-tiba lagu itu muncul di kepala saya. Mungkin karena suasana areal perhutanan itu mengingatkan saya pada Indonesia. Kok bisa ?? Soalnya, kalo tanpa memperhatikan jenis2 pepohonan di hutan itu, jalanan setapak dan areal perhutanan itu tidak berbeda dengan jalanan setapak menuju Siuhan di Parapat, atau jalanan setapak menuju air terjun Sipiso-piso (kedua tempat ini di Sumatera Utara), atau jalanan setapak di komplek hutan Dago Pakar (Bandung) misalnya.

 

Dan begitulah, saat saya bernyanyi dan mengulang-ulang dua baris terakhir di lagu itu, tiba-tiba saja mata saya berkaca-kaca dan saya menangis, bahkan sempat terisak.. Dua baris terakhir lagu itu membuat saya teringat akan Ibu yang sudah melahirkan dan membesarkan saya saya….membuat saya teringat masa kecil saya di Pematang Siantar..membuat saya teringat saat bersama keluarga menikmati jalanan menurun menuju Siuhan….atau saat bersama teman-teman SMA berjalan kaki menapaki jalan menurun menuju air terjun Sipiso-piso…atau saat bersama teman-teman kuliah berjalan kaki di seputar hutan di Dago Pakar…Membuat saya teringat saat beberapa bulan lalu merangkul bahu istri saya saat kami berdiri di jembatan kayu yang melintang di atas sungai di kawasan hutan di Dago utara. ..dan saya juga jadi teringat Bapakku yang sudah menutup mata dua tahun yang lalu, sudah lebih setahun sejak terakhir aku mengunjungi makam beliau…

 

Dalam saat merenung di atas jembatan kayu ini, saya menyadari arti semua kilas balik memori itu, intinya saya RINDU INDONESIA…tidak pernah sebelumnya saya mengalami ini, tapi kali ini saya benar-benar rindu akan INDONESIA.

 

Saya jadi ingat kata-kata salah seorang teman, bahwa kalau saja Indonesia itu memiliki 50% saja daripada apa yang sudah dicapai negara-negara maju (dipandang dari sisi kinerja ekonomi dan pemerataan kemakmuran, dari sisi pemerintahan yang bersih,berwibawa dan berkinerja baik, dari sisi penegakan dan kepastian hukum, dari sisi toleransi beragama, dari sisi penekanan tingkat korupsi seminimal mungkin, dari sisi keamanan dan stabilitas, dari sisi jaminan pendidikan dan kesehatan, dan pemenuhan hak asasi manusia), maka TIDAK AKAN ADA orang Indonesia yang akan pergi jauh-jauh merantau ke luar negeri demi mencari penghidupan yang lebih baik.  Kalaupun pergi ke luar negeri, paling untuk urusan jalan-jalan, berbisnis atau melanjutkan sekolah. Bukan seperti saya ini, yang bersama ribuan TKI lainnya merantau ke luar negeri demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik buat keluarga saya.

 

Bahkan kalau saya membaca atau mendengarkan cerita-cerita dari para sepuh tentang Indonesia di masa sesudah Merdeka sampai awal tahun 60-an, rasanya Indonesia saat itu masih lebih baik daripada sekarang. Indonesia pada masa itu adalah Indonesia yang sedang menggeliat, bergairah, menjunjung moralitas dan integritas, bermartabat dan disegani bangsa-bangsa lain terutama di Asia. Indonesia pada masa itu adalah Indonesia yang bertoleransi dan sangat menghargai perbedaan. Indonesia pada masa itu adalah Indonesia yang bangga memiliki ribuan pulau dan ratusan etnik tapi bersatu dan berbahasa yang satu yaitu Bahasa Indonesia. Indonesia pada masa itu adalah Indonesia yang menjadi panutan bangsa-bangsa di Asia Tenggara dan tempat belajar serta menimba ilmu bagi bangsa-bangsa di Asia Tenggara. Indonesia pada masa itu adalah Indonesia dengan cadangan kekayaan alam yang luar biasa dan bertekad menguasainya secara mandiri demi kemakmuran rakyatnya.

 

Pernahkah kita menyadari, bahwa kemajuan yang dicapai Singapura dan Malaysia saat ini kemungkinan besar karena apa yang mereka pelajari dari Indonesia di masa itu. Paling tidak setahu saya Petronas sendiri mengakui bahwa mereka belajar soal kontrak dan pengelolaan migas dari modelnya Pertamina di zaman itu. Bahkan universitas2 di Malaysia dulu berkembang dengan bantuan dosen-dosen dari Indonesia dan dosen-dosen mereka yang belajar di Indonesia.

 

Kemanakah semua itu sekarang ? Indonesia yang saya kenal sekarang adalah Indonesia yang takut akan perbedaan, Indonesia yang semakin kehilangan toleransi beragama,  Indonesia yang tingkat korupsinya termasuk yang paling parah di dunia, Indonesia yang masyarakatnya sudah kehilangan kepercayaan akan penegakan hukum sehingga memilih membakar hidup2 pencuri ayam daripada menyerahkan sang pencuri ke polisi.  Indonesia yang saya kenal sekarang adalah Indonesia yang tidak mampu memberikan jaminan kesehatan dan pendidikan kepada semua rakyatnya. Indonesia dimana saya membayar pajak setiap bulan tapi saat sekaratpun (misalnya) saya tetap harus menyediakan uang jaminan sebelum ada Rumah Sakit yang mau membantu saya. Indonesia di mana tidak ada jaminan pendidikan bagi semua rakyatnya terutama mereka yang miskin. Indonesia yang sudah mengeruk kekayaan alamnya sedemikian banyak tapi masih belum bisa mandiri dari penguasaan bangsa asing dan lupa bahwa kekayaan alam itu harusnya dipakai sepenuhnya demi kemakmuran seluruh rakyat (bukan sebagian). Indonesia yang lupa bahwa fakir miskin dan anak terlantar harusnya dipelihara negara, bukan dibiarkan terlantar mencari makan sendiri. Indonesia yang membiarkan harga-harga terus melambung (terakhir saya dengar harga elpiji pun kembali naik..). Indonesia yang saya takutkan lama-kelamaan akan menjadi suatu negara dimana terjadi ‘natural selection’ seperti teori Darwin, dimana hanya yang sanggup hidup, hanya yang kuat (berkuasa) dan yang punya duit yang akhirnya akan tetap hidup. Sisanya akan punah dengan sendirinya.

 

Akh, andai seperti kata kawan tadi, Indonesia tercinta memiliki 50% saja dari yang disediakan dan dijamin negara maju buat rakyatnya…siapakah yang mau kehilangan indahnya duduk dan makan di tepi Danau Toba …atau makan roti Ganda, panggang Lindung dan Mie Panjang di Siantar ? siapakah yang mau kehilangan pedas dan gurihnya sambal kacang nasi uduk di Patal Senayan, atau enaknya nasi goreng kambing di Kebon Sirih, Jakarta ? Siapakah yang mau kehilangan nikmatnya pagi2 menyeruput kopi tubruk susu dengan semangkuk Indomie pake cabe rawit di Warung Internet (Indomie telor pake kornet)…? Siapakah yang mau kehilangan indahnya berbahasa Indonesia setiap saat dan dimana saja, plus membaca koran dan buku Indonesia setiap hari ? Dan siapakah yang mau kehilangan akses yang mudah dan murah untuk ketemu keluarga dan orang-orang yang kita cintai? Kemungkinan besar kalau Indonesia memiliki prasayarat 50% itu,  jawabannya adalah tidak akan ada yang mau kehilangan semua itu, apalagi untuk waktu permanent. Mungkin kalau cuma dua minggu sampai satu bulan untuk jalan-jalan atau urusan bisnis, mau-mau aja. Tapi kalau mau dalam jangka waktu lama, saya ragu kalau ada yang mau.

 

Di mana di Kanada (misalnya) saya bisa ketemu semua itu ? Ketemu sambal ABC di Edmonton saja saya sudah luar biasa girangnya dan walhasil semua makanan saya kasih sambal ABC J Terlebih dari semua hal-hal remeh temeh soal makanan itu (maklumlah, saya suka makan..), hal utama yang hilang dengan keberadaan saya di Kanada ini adalah akses cepat dan mudah untuk bertemu dengan orang-orang yang saya kasihi. Memang zaman sudah maju dalam hal teknologi komunikasi, tetapi keberadaan dalam arti ‘fisik’ tidak pernah akan bisa digantikan oleh alat komunikasi paling canggih manapun di dunia. Mungkin suatu saat kalau teknologi ‘teleport’ sudah ditemukan, masalah ini akan teratasi. Tapi sampai teknologi semacam itu ditemukan, bagaimana saya yang di Kanada bisa dalam seketika berada di samping anakku Felicia saat dia sakit atau menangis ? Bagaimana bisa dalam seketika menjenguk adikku Imelda yang sedang sakit ? Atau sekedar bercengkerama dengan sodara-sodara di Jakarta seperti biasa kami lakukan setiap bulan.

 

Mungkin ini hanya kerinduan sesaat buat ‘pemula’ seperti saya yang baru saja masuk bulan kedua berada di tempat yang sangat jauh dari Indonesia. Entahlah, soalnya dulu saya tidak pernah merasa begitu waktu berada di Singapura, Malaysia bahkan India.

 

Tapi terlepas dari apakah itu kerinduan sesaat atau bukan, satu hal yang sudah saya tekadkan…seperti kata-kata terakhir di lagu tadi, suatu saat jika saya tiba pada saatnya akan menutup mata, saya mau tempat akhir saya menutup mata adalah Indonesia. Jika mungkin dan Tuhan berkenan, sebelum menutup mata saya juga ingin berhasil mencapai mimpi saya untuk menyumbang sedikit saja dari pengurangan angka pengangguran di Indonesia..

 

Pada saatnya nanti, saya ingin tubuh saya akhirnya kembali menyatu dengan Ibu Pertiwi tercinta tempat darah saya pertama ditumpahkan saat keluar dari rahim Ibu..tempat semua orang-orang yang saya cintai (termasuk Bapak dan semua orang-orang terkasih yang sudah mendahului saya) berada.

 

God Bless Indonesia…. I will love you forever…

Iklan

23 responses to “Indonesia, sampai akhir menutup mata..

  1. horas lae, saya bisa merasakan apa yang lae rasakan ketika berada di jembatan kayu itu, saya hanya berapa bulan di singapore aja 7 tahun yang lalu, kerasa rindu banget untuk pulkam.
    Lae, tetaplah beri yang terbaik, dan tetap keep in spirit, Indonesia akan berubah oleh seizin Yang Maha Kuasa, Dosa turunan yang membuat Indonesia ini semakin terpuruk, kata orang bijak, selama tak ada pertobatan, maka sodom gomora akan jadi imbalannya.

    Horas
    Pak Naomi

  2. ahhhhhhhh

    tulisan ini sangat menyentuh…

    buat kita yang masih di Indonesia..at least bisa langsung sadar..bahwa Indonesia masih ada untuk di cintai dan di bangun bersama…

  3. Thanks atas sharing-nya … saya bisa membanyangkannya.

    Terkadang saat bersama, keberadaan sesuatu (misal X) sebagai hal yang lumrah sampai akhirnya kita merasa “ada yang hilang”, saat sesuatu itu (X) yang tidak berada bersama kita … saat itulah rindu itu ada dan keberadaanya memang berarti sejak semula.

    Saya saja yang masih di Indo saja, kl dengar lagu “Tanah Air” terasa dalem gitu

    Tanah airku, tidak kulupakan
    ‘kan terkenang selama hidupku
    Biarpun saya pergi jauh
    Tidak kan hilang dari kalbu
    Tanah ku yang kucintai,….engkau kuhargai
    Walaupun banyak negri kujalani,
    Yang mashyur permai dikata orang
    Tetapi kampung dan rumahku,
    Disanalah ku rasa senang
    Tanah ku tak kulupakan
    Engkau kubangkakan

    videonya:

    GBU ya … take care and be strong always.
    nb: saya tahu blog ini dari milis IA-ITB, salam kenal

  4. ayo pulang bangun Indonesia 🙂

  5. Tenang Mas @aRul, sekarang ngumpulin ‘dana’ dulu biar nanti bisa dibawa pulang buat bangun Indonesia:)

  6. ugh.. kalo tinggal nya jauh emang rasa kebangsaan langsung keluar ya.. hihihi

  7. Saya memang hanya bisa tersenyum membacanya, Om.. 🙂
    Tapi, emang bener kayak kata chic, terkadang rasa kebangsaan itu akan keluar pada saat kita berada jauh dr negeri kita, apalagi kalau sudah lumayan lama juga, memasuki 2 bulan gitu loh…

  8. wah 2 tahun nggak ketemu, ternyata Pak Erwin sudah ada di kanada, selamat ya pak…. semoga semua cita-cita (bawa dana untuk bangun indonesia 🙂 ) tercapai.

    Selamat berjuang…

  9. Hehe..apa kabar Pak Herman, gimana karir di tempat baru, betah ?
    Keep in touch ya Pak dan makasih atas doanya. Semoga Pak Herman juga semakin sukses di tempat baru…

  10. Win, 19-24 October kayaknya saya mau ke Calgary, WorleyParsons Technology Forum. Sekarang, bukannya sudah dingin Win?
    Kalo di Edmonton masih bisa jogging, mestinya di Calgary lebih hangat dong…

  11. Hi Mas,
    Mulai dingin sih belakangan ini dan sesekali ujan:)
    Tapi di propinsi Alberta,musim salju sekalipun katanya mentari tetap bersinar..hehe
    Jadi,sejauh ini sih masih kondusif buat joging:)
    Di Calgary lbh banyak org Indonesianya lho:)
    Gak minat nyusul nih? Hehe

  12. Hallo Erwin,
    Salam kenal…Hehe erwin sudah masuk connection di linked in saya, tp saya baru 2 kali masuk ke blog ini… dulu pernah nengok, tp lupa lagi. Soal makanan, minggu kmarin ada teman orang Batak masak ikan arsik, ikannya sih bukan ikan mas, tapi bumbunya pas, jadi kerajingan, cuma bahan dasarnya ngga ada di Belanda sini… Harus nunggu orang Indonesia yg pulkam lagi nih… Walaupun Batak saya ngga kental, karena sudah campur2 dan keluarga saya sudah merantau di Jawa sejak tahun 1920-an, tp masih ngefans sama masakan Batak, terutama sayur singkong tumbuknya…. Udah aah nanti mau pulang lagi :)) .God luck deh buat cita2nya, smoga sukses selalu…

  13. Hi Maurice,
    Salam kenal jg..
    Di sini jg ada yg pintar masak saksang,tp bumbu2nya memang ttp hrs nitip sama yg pulkam:)
    Daun ubi tumbuk jg salah satu fav ku, akhir Okt ini pas pulang ke Siantar buat jemput anak istri aku mau makan sepuasnya:)

  14. Ada baiknya lae dengar lagunya Tongam Sirait “Taringot Ahu”, supaya rasa rindunya lebih melodius hehehe…

    …taringot ahu, tu angka dongan magodangi

  15. Bung Erwin,

    Salam kenal. Saya dapatkan blog anda dari IA-ITB. Tulisan anda sangat menggugah.

    Keep up the good work!!!

  16. Salam kenal juga Mas Satyo,
    Saya coba kunjung balik ke web Mas Satyo, tapi nyasar melulu gak ketemu pintu masuknya..hehe

    Thanks atas supportnya dan saya senang kalau tulisan saya memberi makna yang menggugah buat Mas Satyo..

    Salam,

  17. hix… kalau inget2 lagu yang dinyanyikan itu, kerasa bener gimana enaknya hidup di Indonesia (dengan segala kesemerawutannya). Betul sekali kata abang ini, kalau saja kita sudah mencapai 50% aja kinerja dari negara2 maju di dunia…ga perlu ada orang2 Indonesia yang harus kerja banting tulang keluar negri dengan gaji seadanya, kalau bisa kerja diluar negri pun jadi orang2 profesional yang digaji jauh lebih tinggi dari standar rata2 pegawai biasa 🙂
    Saya sendiri meskipun ‘hanya’ belajar di Malaysia (yang notabene tetanggaan dengan Indonesia) dan sering pulang ke kampung halaman….tetap saja kalau sudah lebih dari 2 minggu, rasanya mau balik terus ke rumah….
    disini kalau ketemu teh botol, kecap bango dan sambel ABC betapa girangnya hati memuji2 nama Tuhan (salah ya??? :p)
    anyway, kalau mau pulang dan membangun Indonesia…ajak2 ya, soalnya banyak teman2 yang berpikiran serupa tapi urung pulang ke Indonesia karena tidak adanya jaminan dll… Kan kalau bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh 🙂

  18. Hi Shierly,
    Gak pernah salah tuh memuji2 nama Tuhan, meski cuma karena girang nemu sambel ABC 🙂
    Toh itu bagian dari berkat khan… 🙂

    Tenang, kita kumpul2 modal dulu dari negeri orang, baru dibawa pulang buat investasi di negeri sendiri ..hehe

  19. Lae Erwin,

    Betul sekali apa yang kau tulis. Hayo kumpulkan ilmu dan dana untuk bersama membangun bangsa. Tak ada niat untuk terus menetap di luar negeri, pulang .. jelas dalam agenda.

  20. Waktu hampir 17 tahun lalu saya di Winnipeg, stok sambal dan mi instan buatan Indonesia selalu ada di Chinatown. Cuma, waktu itu saya tinggal dekat kampus yang cukup jauh dari Chinatown, jadi jarang beli sambal buatan Indonesia.
    Dinginnya Winnipeg itu yang gak tahan…

    Horas, trims udah mampir ke taolobutala

  21. Bah…samalah perasaan kita Lae…sayapun sudah membara kerinduanku untuk pulang kampung, tetapi belum ada waktu luang…
    Salam dari Amerika.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s