Harta yang tiada habisnya….(bagian pertama)

Kalau pertanyaan ‘apakah harta yang tiada habisnya’ ditanyakan kepada saya, maka jawaban saya ada 2 (dua) :

  1. Pendidikan
  2. Emotional bank account (EBA)

 

Kenapa jawaban saya seperti itu, sangat terkait dengan apa yang sudah saya alami selama masa-masa menjalani hidup di dunia hingga saat ini.

 

Yang pertama soal pendidikan adalah berdasarkan apa yang saya lihat terjadi pada keluarga (alm) Bapak saya dibandingkan dengan apa yang terjadi pada Paman saya (marga Situngkir, lihat lagi kisah ‘Andai dulu tidak ada yang mau nyekolahin’ buat yang belum tahu background hubungan saya dengan beliau) dan terutama apa yang saya sudah alami sendiri.

 

Kakek saya dari pihak Bapak pada suatu masa pernah menjadi salah satu orang terkaya (dalam konteks harta benda) di Pematang Siantar. Jangan kira bahwa orang kaya di Pematang Siantar tidak ada apa-apanya dibandingkan orang kaya di Jakarta. Zaman antara tahun 1960 s/d medio 1970-an itu, tidak ada di Pematang Siantar yang tidak kenal Galang Simanjuntak, alias GS. Berdasarkan cerita, Kakek saya pernah punya rumah sampai 20 pintu di jalan Merdeka (ini jalan protokol di Pematang Siantar, pusat niaga semacam Sudirman). Zaman dulu orang memakai ‘pintu’ sebagai satuan rumah. Kalau seandainya sampai hari ini masih punya rumah sebanyak itu di jalan Merdeka, nilai assetnya bisa mencapai 40an milyar rupiah, dengan asumsi satu rumah sekitar rata2 2 M (saya gak tahu harga sekarang, mungkin lebih).

 

Itu baru rumah di Jalan Merdeka. Kakek saya punya beberapa rumah lagi di daerah lain Pematang Siantar. Kakek bahkan sampai punya rumah di Jakarta, salah satu yang tersisa adalah rumah di Tebet yang saat ini ditempati oleh Paman. Kakek juga punya banyak kios di Pasar utama Pematang Siantar dan unit bisnis grosir rokok Kakek saya tersebar mulai Pematang Siantar sampai Padang. Ya, Kakek saya waktu itu adalah salah seorang saudagar rokok yang disegani para tauke-tauke Tionghoa di Siantar. Selain itu Kakek punya berhektar2 tanah property dan sawah yang tersebar di mana-mana, mulai daerah Tanah Jawa sampai ke Porsea.

 

Sebagaimana umumnya ‘penyakit’ orang Batak, Kakek saya juga suka dengan mobil. Zaman orang belum punya Mercedes, Kakek adalah salah satu orang pertama di Pematang Siantar yang memiliki Mercy (begitu orang menyebutnya di Siantar) versi terbaru. Belum dihitung jip dan belasan truk yang menjadi urat nadi distribusi dalam bisnisnya.

 

Mungkin karena punya Bapak yang kaya, Bapak saya dan saudara-saudaranya cenderung kurang berminat pada pendidikan. Padahal kalau ada kemauan, Kakek saya sanggup membiayai mereka ke jenjang pendidikan paling tinggi, bahkan hingga ke luar negeri. Soal inteligensia, terutama Bapak saya sebenarnya sangatlah kapabel. Saya selalu mengagumi kemampuan inteligensia Bapak saya sampai sekarang, apalagi soal Matematika, saya yakin dosen kalkulus pun gak sanggup menang urusan kecepatan berhitung dengan Bapak saya.  

 

Tetapi tidak ada dari antara mereka yang memanfaatkan keberadaan orangtuanya untuk meraih pendidikan tinggi. Rata-rata semua memang pada dikirim ke Jakarta, terutama Bapak saya yang ogah2an sekolah di Pematang Siantar. Tetapi di Jakarta pun mereka pun tidak terlalu serius sekolahnya dan beberapa baru benar-benar serius sekolah setelah Kakek meninggal dunia di tahun 1979.

 

Paling parah memang Bapak saya, banyak main dan bandel. Ujung2nya setamat SMA, Bapak dikembalikan ke Pematang Siantar kira-kira tahun 1973 buat bantu bisnis Kakek. Bapak pernah cerita bahwa waktu SMA di Jakarta dia satu kelas dengan Jendral Agum Gumelar dan masa itu orang-orang pada dibujuk masuk ABRI. Dia dan Agum termasuk orang-orang yang ditawari jadi ABRI, tapi Bapak menolak sementara Agum menerima. Zaman dulu kami suka bercanda dengan Bapak, coba seandainya Bapak mau jadi ABRI, pasti sudah jadi Jendral kayak Agum Gumelar. Tapi Bapak dengan lihai selalu berkilah, “ kalau aku jadi Jendral, mungkin gak kan ketemu Mamamu dan kalian gak akan ada di dunia ini..”. Sampai Bapak wafat, saya belum sempat mengkonfirmasi apa cerita dengan Agum ini sungguh benar adanya.

 

Harta benda yang sedemikian banyak dan seolah tidak mungkin habis, ternyata pupus dengan cepat. Dimulai awal-awal 1975 ketika beberapa truk Kakek mulai bergantian terguling dalam perjalanan distribusinya, atau rusak atau dirampok di jalan. Lalu berlanjut dengan harga rokok yang menurun hingga pertengahan 1979, mengakibatkan selisih rugi yang besar sementara pinjaman ke bank bunganya tidak berubah dan harus dibayar. Selain itu rekan bisnis Kakek juga beberapa menipu beliau dan diam-diam mengambil keuntungan atas kurangnya kontrol.

 

Saat Kakek meninggal dunia di tahun 1979, 20 ‘pintu’ rumah di jalan Merdeka dan kios-kios di pasar itu nyaris sudah dijual semua buat bayar pinjaman ke bank, hanya tersisa satu rumah di jalan Merdeka yang masih ada sampai sekarang dan disewakan ke orang lain. Satu persatu truk dan mobil juga dijual dan keadaan semakin diperparah setelah Nenek saya tidak mau menandatangani perjanjian di depan notaris agar Bapak saya diberikan kuasa meneruskan bisnis. Walhasil, ketika tahun 1980 harga rokok naik kembali, saat tauke-tauke rokok lainnya menikmati kembalinya bisnis, sebaliknya bisnis almarhum Kakek malah jadi ‘puso’ karena tidak ada yang lanjutin.

 

Karena Bapak tidak punya pendidikan lebih dari SMA plus ego tinggi sebagai ‘bekas’ orang kaya, beliau tidak pernah mau memiliki pekerjaan formal. Dengan modal pendidikan SMA, pekerjaan formal yang mungkin beliau miliki di kota kecil seperti Pematang Siantar tentu sangat terbatas dan tentu di level yang rendah. Beliau tidak mau berada dalam posisi ini.

 

Walhasil, sejak awal 1980an , boleh dikata kami sekeluarga menggantungkan hidup dari harta yang tersisa. Tetapi seperti kata orang bijak : ‘gunung pun akan rata kalau setiap hari dikeruk’..begitu juga yang terjadi dengan Bapak saya dan keluarga kami pada masa itu. Apalagi kebanyakan harta yang tersisa adalah harta tidak bergerak yang tentu tidak bisa diuangkan tanpa persetujuan adik2nya Bapak. Jadi yang bisa dinikmati cuma biaya sewa tanah / rumah atau pun hasil panen sawah yang masih tersisa.

 

Bapak sempat punya bisnis bengkel, tapi lagi-lagi karena kurang kontrol, akhirnya teman bisnisnya main curang dan akhirnya Bapak menutup bisnis itu dengan kerugian.

 

Begitulah, Bapak saya yang tadinya hidup bergelimang harta, akhirnya harus menggantungkan hidup dari sewa tanah/rumah, dan hasil panen. Kenyataan ini menjadi semakin berat setelah anak-anaknya semakin besar dan jumlahnya juga banyak (kami semua delapan bersaudara). Ada masa-masa di mana kami harus hidup dari meminjam duit sana sini, bahkan ada masa-masa di mana dalam satu hari tidak ada yang bisa dimakan sama sekali.

 

Hal yang berkebalikan dialami Paman saya, Daniel Situngkir. Kalau Bapak saya lahir dan besar sebagai anak orang kaya, Paman saya lahir dalam kemiskinan dan keprihatinan di Pulau Samosir, di tengah Danau Toba, Sumatera Utara. Saking miskinnya dan tidak sanggup menyekolahkan anaknya, orangtua Paman saya mengirim beliau masuk sekolah Seminari di jalan Lapangan Bola Pematang Siantar. Sekolah Seminari yang dikelola frater-frater Katholik ini gratis buat mereka-mereka yang lulus seleksi. Kualitas pendidikannya sangat bagus dan siswa diberikan asrama serta terjamin hidupnya. Lulusannya tentu diharapkan menjadi pastor, tetapi kalaupun gagal jadi pastor, juga tidak ada konsekwensi finansial yang harus ditanggung siswa.

 

Paman saya cerita bahwa zaman waktu masih sekolah di Samosir, mereka ke sekolah tidak pake sepatu karena tidak sanggup beli sepatu. Bahkan setelah di Seminari karena tidak punya uang saku, kalau diberikan waktu pesiar ke kota,  dia cuma keliling2 jalan kaki di kota Pematang Siantar sambil dengan ngiler melihat orang-orang lain yang makan minum di restoran ataupun di berbagai pusat jajanan lainnya.

 

Tetapi Paman saya orang yang ulet dan percaya bahwa dengan pendidikan dia akan maju. Keluar dari Seminari (tidak meneruskan jadi pastor), beliau merantau ke Jakarta. Di Jakarta kemudian keterima kerja di Auto 2000 – Astra sebagai kerani (semacam juru tulis, atau staff admin rendahan). Sambil kerja dia mulai ambil Bon A / B (semacam pendidikan akuntansi ). Waktu itu beliau sudah menikah dengan Tante saya dan hidup sangat prihatin di rumah kost di Manggarai (katanya tanpa pintu, terpaksa pakai pintu portable berupa triplek.

 

Setelah lulus Bon A/B, karirnya mulai menanjak di Auto 2000. Mereka lalu pindah ke rumah yang lebih baik di daerah Mardani. Paman saya kembali meneruskan pendidikannya dengan mengambil kelas malam di YPI, sehingga beberapa tahun kemudian lulus sebagai sarjana akuntansi.

 

Setelah lulus sebagai sarjana akuntansi, diimbangi dengan loyalitas dan prestasi kerja yang sangat bagus, karir Paman di Auto 2000 terus menanjak. Berpuncak pada kira-kira tahun 1992 ketika beliau diangkat dan ditugaskan sebagai Kepala Cabang di salah satu Cabang Auto 2000 di  Surabaya. Dari sisi finansial, Paman saya tidak pernah lagi berkekurangan. Dengan pendidikan yang disertai prestasi dalam karir, dia akhirnya bisa memberikan kepada istri dan anak-anaknya tingkat kesejahteraan dan kehidupan yang dulu tidak bisa dia rasakan semasa kecilnya.

           

Kembali ke Jakarta sekitar tahun 2000, Paman saya menjadi Kepala Cabang salah satu Cabang Auto 2000 di Jakarta dan sebelum pensiun di tahun 2007, menjadi HR Head di Astra. Ketika beliau pensiun, beliau sudah sangat mapan secara finansial dan mampu memberikan yang terbaik buat putra putrinya, termasuk pendidikan terbaik (dua dari antara 3 anaknya sudah menempuh pendidikan di jenjang Master).

           

Kontras yang terjadi antara dua kisah di atas membuat saya percaya bahwa pendidikan adalah jalan menuju kehidupan yang lebih baik, dan sekaligus harta yang tiada habisnya. Sesuatu yang kini saya rasakan seperti pernah saya ceritakan sebelumnya bagaimana dengan pendidikan saya sudah merubah jalan nasib kami dari yang tadinya berpotensi madesu (masa depan suram) menjadi cerah menjanjikan. Saya bersyukur bahwa saya diberikan kesempatan memberikan Adik-adik saya harta yang tiada habisnya, dalam bentuk pendidikan sehingga mereka semua bisa memperoleh pekerjaan yang baik dan menjadi harta yang tidak akan pernah bisa habis, malah akan semakin bertambah kalau mereka rajin ‘menghabiskannya’ untuk mencapai prestasi dan karir yang lebih baik.

 

Bagaimana dengan EBA ? Silahkan tunggu kisah tentang EBA di bagian kedua dari tulisan ini…. J

 

Iklan

10 responses to “Harta yang tiada habisnya….(bagian pertama)

  1. Tulisan yang sangat menyentuh. Keep up the great work!

  2. betul sekali bang, papa saya juga terus2an berpetuah kepada saya bahwa kelak kalau dia meninggal nanti…dia ga akan bisa mewariskan apa2 ke anak2nya. satu2nya yang bisa dia wariskan adalah pendidikan, makanya kami sekeluarga terus didorong untuk belajar. sampai dulu meskipun papa harus puasa terus ga makan (saya masih kecil, jadi ga tau. taunya begitu uda besar diceritakan kembali oleh mama), itu cuma untuk ngirit biaya hidup supaya kami ber3 bisa terus sekolah dan beli buku pelajaran…
    saya termasuk orang yang beruntung punya papa (yang meskipun hanya bisa mengenyam pendidikan sampai sma), tapi sekarang saya bisa kuliah s2 (fyi, masih dalam proses) dan bisa mulai merasakan pentingnya pendidikan untuk bisa bertahan di dunia sekarang ini. Mungkin banyak orang yang meragukan pentingnya pendidikan formal, katanya orang2 kaya di dunia saja tidak punya gelar. Tapi pada kenyataannya, orang2 yang tidak mengenyam pendidikan formal yang bisa berhasil hanya segelintir kecil dimana sebagian besarnya hanya bisa merenungi nasib sambil terus bertahan hidup seadanya…
    🙂
    ditunggu terus postingan untuk selanjutnya ya bang… cheerz

  3. Hi Shierly,
    Makasih atas komentnya ya..
    Betul sekali katamu itu, soalnya mayoritas orang tidak akan seberuntung Ken Arok atau Untung Bebek..hehehe

    Seperti aku bilang, dengan pendidikan minimal kamu punya harta yang tidak bisa diambil orang lain dari dirimu dan kalau ‘dihabiskan’, malah makin bertunas dan menghasilkan 🙂

  4. abang..i lovee you so much buat tulisan ini..

    in fact.. i love youuu untuk semua pengalaman hidupmu..

    harta yang tak habis adalah ilmu..pendidikan..dan pastinya..cinta kasih keluarga bang..

    salam untuk kelurga di rumah ya Bang…

  5. Prends, Tulisan yang bagus, terus bikin tulisan yang membuat orang termotivasi.

  6. saya acungkan 2 jempol untuk tulisan di atas. Benar2 sangat menyentuh, penuh motivasi! Thanks ya!

    Izoel.

  7. Tulisan yg mengesankan!

    Salam dari Trento,
    Dafferianto

  8. Promosikan artikel anda di http://www.infogue.com. Telah tersedia widget shareGue dan pilihan widget lainnya serta nikmati fitur http://www.infogue.com/info/cinema/& http://www.infogue.com/game_online & http://www.infogue.com/kamus untuk para netter Indonesia. Salam!
    http://gaya-hidup.infogue.com/harta_yang_tiada_habisnya_

  9. mirip-mirip dengan saya tapi ada bedanya …
    kalau ompungku bangkrut saat perobahan nilai uang.., anaknya masih sempat sekolah vornganger …..
    ayo, kita tinggalkan kemiskinan melalui pendidikan …

    http://rapmengkel.com

  10. One word:

    Inspiring.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s