BERSYUKUR…

bersyukur

Saya bersyukur pernah merasakan bagaimana hidup ‘susah’. Susah dalam konteks tulisan kali ini adalah dalam arti berkekurangan secara materil ,bukan kurang dalam hal kasih sayang. Kalau dalam hal kasih sayang, sejak kecil sampai sekarang saya tidak pernah kekurangan kasih sayang dari orangtua, adik2 saya, dan sekarang tambahan dari istri, bayi kecil kami, mertua serta ipar-ipar saya. Plus tentu dari teman-teman dan semua orang yang saya kenal serta mengasihi saya.

 

Tetapi dalam kaitannya dengan kekurangan secara materil, saya bersyukur pernah mengalaminya karena pengalaman itu membuat saya bisa mensyukuri kehidupan termasuk ‘hal materil’ yang saya miliki sekarang.

 

Bukan berarti saya sudah kaya secara materi lho, dan bukan saya ingin menyombongkan diri bahwa saya sudah jadi salah satu orang ‘berpunya’. Bukan itu yang saya maksudkan.

 

Maksud saya adalah, karena saya pernah hidup susah, saya bisa mensyukuri kenyataan bahwa saya bisa makan 3 kali sehari setiap hari tanpa takut bahwa besok tidak ada beras atau bahan makanan lainnya buat dimasak. Zaman susah dulu terutama masa remaja saya, ada masa-masa di mana tidak ada bahan makanan yang bisa dimasak sama sekali dan tidak ada uang buat beli makanan. Ada masa-masa di mana kami terpaksa tidak makan sehari penuh. Ada masa-masa di mana saya harus mengais botol-botol bir atau limun bekas di belakang rumah untuk dijual ke ‘parbotok-botok’ (istilah di Siantar buat pemulung) dan biasanya paling banter dapat 1 kg mie kuning plus 1 butir telor. Itulah yang harus dibagi buat 10 orang (ortu saya plus 8 anak). Mie kuning lebih murah daripada beras dan lebih mengenyangkan karena bakal ‘bengkak’ sesudah di dalam perut. Terkadang kalo masih ada sisa beras, yang dibeli adalah Indomie plus telor untuk dijadikan lauk temannya nasi.

 

Saya juga bersyukur bisa makan, bayar listrik, bayar air, gas dan sebagainya tanpa harus menebalkan muka meminjam uang ke tetangga. Dulu karena saya anak paling besar, saya termasuk ujung tombak untuk ngutang ke tetangga. Baik itu ngutang beras dan bahan pokok lainnya ke warung tetangga atau minjam duit ke rentenir lokal. Rasa malu dan terhina setiap kali harus ngutang (apalagi dibarengi senyum sinis atau sindiran halus si pemilik warung atau si rentenir) benar-benar menjadi memori yang terekam abadi di benak saya. Kalau harus menggadaikan atau menjaminkan sesuatu buat bisa ngutang, biasanya saya lakukan malam hari supaya engga ada yang liat. Pernah suatu malam, saya disuruh Mama mengantar TV ke salah satu rentenir lokal. TV pun dibungkus dengan kain sarung, dan seperti seorang pencuri saya mengendap2 berjalan sejauh 5 km untuk membawa TV dan ditukarkan dengan sejumlah uang.

 

Saya bersyukur karena saya mampu membelikan sandang yang layak buat istri saya dan bayi kami tanpa harus menunggu uluran tangan dari saudara. Termasuk menjelang Natal sekarang, saya bersyukur bahwa saya punya uang yang cukup untuk berbelanja barang-barang buat persiapan merayakan Natal. Zaman dulu, setiap menjelang Natal, saya dan adik2 saya menanti dengan harap-harap cemas ‘kiriman’ dari saudara baik berupa bahan pakaian, baju2 bekas yang masih layak pakai, atau ‘uang Natal’. Yang rutin mengirimkan ‘uang Natal’ dan sejenisnya adalah salah seorang Kakak Mamaku. Begitu kiriman diterima, biasanya Mama langsung belanja keperluan Natal, termasuk membeli kue2, bahan makanan dan sebagainya. Seringkali kiriman itu disertai satu kardus berisi bahan2 pakaian atau pakaian bekas yang masih bagus dan modelnya belum muncul di kota kecil kami, Pematang Siantar. Meski pakaian bekas, kalau dipake gak ada yang tahu , soalnya masih kelihatan baru dan belum pernah ada yang lihat model-model seperti itu. Maklumlah, namanya juga baju2 dari Jakarta dan Surabaya. Buat kami memakai baju2 itu sudah suatu keluarbiasaan dan mengisi keceriaan kami di hari Natal dan Tahun Baru.

 

Saya bersyukur karena mampu menyediakan tempat tinggal yang layak buat istri dan bayi kami. Waktu rumah nenek yang kami tinggali belum direnovasi, kami sampai tidak pernah membawa teman ke rumah karena malu menunjukkan betapa sudah bobroknya bagian dalam rumah kami yang setengah batu (istilah orang Siantar untuk rumah kombinasi papan dan beton/semen, tidak 100% beton). Setiap hujan kami juga harus siap2 menaruh baskom dan sejenisnya di tempat2 strategis untuk menampung bocoran air hujan. Kalau banjir lumayan tinggi, kami harus menunda upaya ke WC terutama untuk buang air besar karena ‘kakus’ kami biasanya meluap. 

 

Saya juga bersyukur bahwa saya masih sanggup membiayai sekolah adik2 saya dan menyisihkan uang buat pendidikan anak-anak saya kelak. Zaman dulu, setiap mendekati tanggal 10 di awal bulan, saya dan adik2 saya yang sudah sekolah biasanya mulai kebat kebit dan malas ke sekolah. Penyebabnya tidak lain karena tanggal 10 adalah deadline pembayaran uang sekolah dan biasanya dari 12 bulan dalam setahun mungkin hanya 2 kali kami bisa memenuhi deadline. Seperti saya pernah ceritakan, berhubung Bapak saya tidak punya pekerjaan, otomatis tidak ada penghasilan yang tetap dan pasti. Susah buat memenuhi deadline itu secara rutin. Kami malas ke sekolah karena biasanya sesudah tanggal 10, maka yang belum bayar uang sekolah akan dipanggil namanya, entah itu di depan kelas atau malah saat upacara hari Senin. Malu sekali rasanya setiap kali itu kejadian. Belum lagi terkadang sampai harus dipanggil dan dipermalukan lagi di depan Kepala Sekolah.

 

Karena saya pernah hidup susah, menjadi kemustahilan buat saya untuk menuliskan semua hal yang harus saya syukuri. Saya boleh dikata bersyukur untuk apa saja yang saya miliki dan alami sekarang, mulai dari yang paling kecil sampai yang paling besar. Makanya niat saya menulis buku tentang mensyukuri hidup belum kesampaian sampai sekarang, soalnya terlalu banyak yang harus ditulis 🙂

 

Menurut hemat saya, manusia memang perlu merasakan ‘susah’ supaya bisa bersyukur. Bayangkan kalau dari kecil Anda terlahir kaya, remaja pun makin kaya dan sesudah dewasa menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia. Apakah Anda akan bisa mensyukuri apa yang Anda miliki dan alami dalam hidup? Terus terang saya meragukannya. Manusia sering kali lupa bersyukur karena menganggap apa yang dimilikinya ‘sudah seharusnya’, dan karena membandingkan dirinya dengan ‘yang lebih’, bukan ‘yang berkekurangan’.

 

Itu sebabnya saya sering tidak habis pikir jika ada yang mengeluh karena gajinya cuma sekian juta, padahal di perusahaan lain (katanya) bisa dapat sekian juta lebih banyak. Well, pertama-tama apakah Anda itu sadar bahwa ada jutaan orang tidak pernah tahu rasanya terima gaji karena mereka pengangguran atau pernah merasakan lalu kemudian di PHK ? Apakah Anda tahu bahwa jutaan orang di Indonesia yang harus hidup dari 5000 s/d 10000 rupiah sehari ?

 

Saya juga tidak bisa mengerti kalau ada yang mengeluh karena rumahnya kecil, jauh, dan sebagainya. Tahukah Anda bahwa ada jutaan orang di Indonesia tidak punya rumah ? Tahukah Anda bahwa di Jakarta ada ribuan orang yang hidup dalam gerobak  dan ribuan lainnya yang tinggal di bawah kolong jembatan ?

 

Saya juga marah waktu saya baca di koran bahwa salah seorang (mantan) orang terkaya Indonesia mengeluh bahwa kekayaannya menyusut 90% karena krisis moneter dan karenanya dia harus dibantu pemerintah termasuk untuk membayar ‘hutang’ anak perusahaannya. Hartanya yang (katanya) sisa 10% itu saja cukup untuk mengasih makan seluruh manusia di pulau Jawa, dan dia masih mengeluh? Pasti karena dia tidak pernah merasakan hidup susah.

 

Manusia memang harus selalu maju (termasuk mencari pekerjaan dengan gaji yang lebih baik), tetapi…dan ini yang sering tidak disadari orang, terlebih dahulu syukurilah apa yang Anda miliki sekarang tanpa lupa berusaha untuk yang lebih baik. Ubah pola pikir dari mengeluh dan komplain, menjadi bersyukur atas apa saja yang Anda miliki atau alami. Efeknya akan jauh lebih menyenangkan dan akan bagus buat kesehatan pikiran Anda kalau selalu dimulai dengan bersyukur alih-alih mengeluh.

 

Waktu susah dulu pun, saya tidak mengeluh. Saya tetap bersekolah dengan baik dan meraih prestasi meskipun sering telat bayar uang sekolah. Saya tetap bisa tertawa dan bercanda dengan orangtua serta adik-adik saya meskipun di tengah kesusahan. Saya tidak pernah kehilangan respect dan kasih sayang ke Bapak dan Mama saya meskipun mereka tidak sanggup memberikan kehidupan yang lebih layak pada masa itu. Saya tetap bersyukur, karena meski di tengah kekurangan dan ketidak pastian, orang tua kami tetap sangat perduli akan pendidikan dan berusaha selalu menempatkan kami di sekolah terbaik di Pematang Siantar sejak SD sampai SMA.

 

Zaman kuliah pun saya tidak pernah mengeluh dalam segala kekurangan yang saya alami dan atas fakta bahwa saya kuliah dibiayai orang lain. Saya kuliah dengan sungguh2 dan berhasil lulus tepat waktu, plus langsung bekerja.

 

Sesudah kerja, saya tidak pernah sekalipun mengeluh atas gaji yang saya terima. Saya juga tidak pernah komplain atau menjelek2kan perusahaan tempat saya bekerja. Saya bersyukur bahwa perusahaan itu masih mau menerima saya bekerja dan bersyukur bahwa gaji dari perusahaan memampukan saya membiayai kehidupan saya dan keluarga.

 

Meskipun demikian, saya tidak pernah berhenti dalam upaya peningkatan hidup ke arah yang lebih baik. Dan terbukti, tanpa mengeluh saya pelan-pelan berhasil meningkatkan taraf hidup saya ke arah yang lebih baik. Banyak teman dan handai taulan yang saya tahu selalu mengeluh dan rajin komplain tentang perusahaan tempatnya bekerja, ternyata sampai detik ini tidak beranjak kemana-mana dan kehidupannya masih sama seperti dahulu.

 

Menurut hemat saya, bersyukur bisa memberikan efek motivasi yang positif, termasuk efek positif buat pola pikir Anda sehingga Anda dipenuhi energi positif dan akan selalu optimis akan hari depan. Anda tidak akan pernah jadi orang yang optimis akan hari depan jika Anda tahunya cuma mengeluh tanpa tahu bersyukur.

 

Jadi, tunggu apa lagi ? Mari belajar bersyukur dan tidak pernah berhenti bersyukur J

Iklan

4 responses to “BERSYUKUR…

  1. Bagaimana kondisi perusahaan tempat Bang kerja saat ini? Td lihat di Kontan, pemerintah RI mengakui 250.000 TKI kena PHK. Semoga bang Erwin tidak termasuk.

  2. Wah bang,

    Saya bersyukur buat orang tua yang saya miliki, meski mereka susah dan harus ngutang kesana sini waktu saya kecil… tapi ga pernah sekalipun kami (anak2nya) merasa kekurangan.

    Memang tidak berlebih, tapi setidaknya saya tidak merasakan ‘sedikitpun’ kesusahan yang dirasakan bang baja waktu kecil dulu. Sekalipun papa n mama ga makan, tapi semua anaknya pasti makan 3 kali sehari, bisa sekolah dan beli mainan (mungkin karena dulu belom ngerti, saya suka minta yang macem2 sama papa… duh, dosanya saya ini…)

    Nice post bro…
    Untuk ngingetin ke orang2 yang hidupnya suka mengeluh tanpa pernah ‘melihat dengan jelas’ bahwa masih banyak orang yang jauh lebih tidak beruntung dari mereka…

    GBU

  3. Horas tulang . Dahsyat sekalu . Saya akan mencoba menjadi seperti Tulang . Bersyukur atas apa yang sudah Tuhan berikan kepada saya . GBU

  4. Horas Bere @ Valens01,
    Makasih atas kunjungannya, kalau sudah janji sama Tulang harus dipenuhi ya..hehe…GBU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s