Pemalak dan peminta-minta ala Edmonton..

p21705142Buat yang sering naik kendaraan umum di Jakarta (utamanya Metromini dan Bis kota), tentu pernah atau malah sering ketemu dengan ‘Abang-Abang’ atau ‘Bapak-Bapak’ yang membawa secarik kertas untuk kemudian ditunjukkan sesudah kendaraan umum melaju. Biasanya mereka akan maju ke depan, ke daerah di dekat kursi pengemudi dan menunjukkan kertas tersebut sambil bercerita, entah itu tentang baru di PHK, atau tentang anaknya yang sedang sakit dan harus ditebus dari RS, atau bahkan baru keluar dari penjara.

 

Umumnya di akhir cerita, si Abang-Abang atau Bapak-Bapak ini kemudian menutup dengan perkataan sejenis ini : ‘saya minta perhatian dan sumbangan dari Bapak, Ibu, saudara-saudari sekalian, daripada saya merampok …”. Ditambah dengan tampang si pencerita yang umumnya sangar plus tato di anggota tubuh maka lengkaplah ‘pemerasaan’ atau ‘pemalakan’ halus tersebut. Penumpang yang udah keder duluan biasanya tanpa banyak cing cong akan memasukkan uang 500 atau 1000 rupiah ke dalam kantong plastik (umumnya bekas bungkus permen) yang diedarkan si Abang-Abang / Bapak-Bapak itu.

 

Ternyata meski Kanada sudah termasuk negara maju dan boleh dikata sejahtera, hal yang mirip dengan yang pernah saya alami di Jakarta juga saya temukan di sini, tepatnya di kota tempat tinggal saya sekarang, Edmonton.

 

Caranya bermacam-macam dan sudah beberapa kali saya alami. Mungkin karena di kota ini asumsinya imigran pasti punya kerja, atau paling tidak punya bisnis, maka akhirnya orang-orang imigran menjadi pilihan logis untuk di ‘palak’ secara halus. Tampang saya jelas-jelas tidak bisa menyembunyikan status ‘imigran’ saya sehingga saya pun harus mengalami ‘pemalakan’ ala Kanada ini beberapa kali. Ada yang langsung meminta saat berpapasan di jalanan, ada juga dengan cara-cara halus.  

 

Yang mintanya terang-terangan biasanya langsung saya tolak dan sejauh ini engga pernah ada masalah kalau ditolak. Bukan seperti di Jakarta, yang kalau ditolak bisa bikin berabe (entah ditusuk, dibacok, diajak berantem atau minimal dimaki ‘pelit’), di sini kalau ditolak maka si peminta langsung ngeloyor pergi dengan cueknya.

 

Tetapi ada beberapa kali juga saya akhirnya memberikan uang, umumnya untuk yang meminta dengan diawali cerita2 sedih soal kedinginan, lapar atau gak punya ongkos buat naik bis.Metoda paling baru yang baru saja saya alami seminggu yang lalu di West Edmonton Mall adalah dengan menggunakan ‘kartu’, lihat ilustrasi foto terlampir.

 

Pesan di kartu itu kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia kira-kira mau bilang “Saya seorang tuna rungu. Saya mencari makan dengan menjual kartu ini. Bayarlah serelanya. Terima kasih dan Tuhan berkati’. Kartu itu boleh dikata tidak ada nilai jualnya. Selain kata-kata di bagian depan kartu seperti ilustrasi di atas, di bagian belakang kartu itu hanya ada ilustrasi abjad buat para tuna rungu mulai huruf A sampai Z.

 

Orang yang menjual kartu itu secara fisik kelihatan sehat dan harusnya sanggup bekerja. Di Kanada setahu saya akses orang cacat ke dunia kerja dibuka lebar.Tapi mungkin cara seperti yang ditempuhnya dirasakan lebih mudah buat cari duit daripada bekerja.

 

Kesimpulannya, meski di negeri yang sudah masuk kategori sejahtera seperti di Kanada ini, tetap ada manusia-manusia yang ingin cari duit dengan cara mudah dan kalau perlu dengan ‘mengemis’ atau bahkan ‘memalak’ secara halus.

 

Ngomong-ngomong, ide pake kartu ini kelihatannya boleh juga ditiru oleh ‘Abang-Abang’ atau ‘Bapak-Bapak’ tukang palak di Jakarta. Daripada berpanas-panas dan cape naik turun Metromini, mending jual kartu sejenis di Mal-Mal.. J  

Iklan

6 responses to “Pemalak dan peminta-minta ala Edmonton..

  1. seperti yg di film2 juga ya…di jakarta sekarang mau makan di lapo tondongta aja didepan pintunya udah ada yg berbaris nyanyi2 sambil minta duit…hahaha

  2. Hal seperti ini juga pernah saya alami. Tapi agak lebih kreatif karena dia menjual gantungan kunci trus di lampirkannya kertas yg mengatakan bahwa dia tuli…

    Banyak cara orang utk mencari uang ya… 😀

  3. Apa kabar bung Baja, semoga sekeluarga sehat wal afiat, sudah bisa apa si kecil?
    Lama sekali kita tak jumpa ya, walau hanya sekedar lewat blog. Gak tau ni, lagi sibuk [atau sok sibuk dan tak pandai kelola waktu ;-)]

    Kalau bicara pengemis, yang terbayang ada dua, yang satu memang mental pengemis, yang lainnya memang benar2 gak bisa kerja sehingga ‘terpaksa” meminta2. Dan itu hanya mereka sendiri yang tahu.

    Pengemis akan selalu ada, seperti juga orang kaya dan miskin, dimana2 ada.

    Ada juga “pengemis intelek”, “pengemis politik”…wah jadi kemana2 ni.

    Apa pun, tangan di atas selalu lebih baik dari tangan di bawah. It’s our choice.

  4. Mungkin adanya para peminta-minta itu memberi kesempatan bagi kita untuk menolong orang lain .

    Mungkin-mungkin saja …

  5. Ha…ha…kreatif bukan hanya punya orang Indo…ternyata kreatif selalu hadir dimana-mana..ntah dalam wujud negatif ato positip.

    Tetap Semangat pak!
    Salam Sukses!

  6. sering kita mengalami hal seperti itu saat menumpang kendaraan umum. mereka meminta uang tapi dengan cara memaksa dengan mengaku baru bebas dari penjara dan anda ga akan miskin apabila mensedekahkan seribu atau dua ribu uang anda kepada mereka. sungguh menjengkelkan………….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s