Category Archives: Lain-lain

Pemalak dan peminta-minta ala Edmonton..

p21705142Buat yang sering naik kendaraan umum di Jakarta (utamanya Metromini dan Bis kota), tentu pernah atau malah sering ketemu dengan ‘Abang-Abang’ atau ‘Bapak-Bapak’ yang membawa secarik kertas untuk kemudian ditunjukkan sesudah kendaraan umum melaju. Biasanya mereka akan maju ke depan, ke daerah di dekat kursi pengemudi dan menunjukkan kertas tersebut sambil bercerita, entah itu tentang baru di PHK, atau tentang anaknya yang sedang sakit dan harus ditebus dari RS, atau bahkan baru keluar dari penjara.

 

Umumnya di akhir cerita, si Abang-Abang atau Bapak-Bapak ini kemudian menutup dengan perkataan sejenis ini : ‘saya minta perhatian dan sumbangan dari Bapak, Ibu, saudara-saudari sekalian, daripada saya merampok …”. Ditambah dengan tampang si pencerita yang umumnya sangar plus tato di anggota tubuh maka lengkaplah ‘pemerasaan’ atau ‘pemalakan’ halus tersebut. Penumpang yang udah keder duluan biasanya tanpa banyak cing cong akan memasukkan uang 500 atau 1000 rupiah ke dalam kantong plastik (umumnya bekas bungkus permen) yang diedarkan si Abang-Abang / Bapak-Bapak itu. Baca lebih lanjut

The 3rd milestone…

sepuluhribu3Tepat tanggal 27 Desember 2008 yang lalu, blog ini mencapai milestone-nya yang ke-3 yaitu hit ke 10.000. Kira-kira 200 hari telah ditempuh sejak milestone-nya yang kedua (hit ke 1000).

Saya berterima kasih kepada Anda-Anda yang sudah menyempatkan mengunjungi blog ini, juga kepada beberapa orang yang ternyata rutin berkunjung ke blog ini. Semoga cerita-cerita share pribadi yang ada di blog ini memberi inspirasi, motivasi dan berkat (seperti kata salah satu pembaca) buat siapa saja yang membacanya. Tidak ada niat saya berbagi cerita di sini selain berusaha menginspirasi banyak orang, terutama Anda-Anda yang mungkin sedang susah, sedang patah semangat, sedang merasa tidak beruntung, dan sebagainya.   Baca lebih lanjut

Indonesia, sampai akhir menutup mata..

Indonesia tanah air beta..

Pusaka abadi nan jaya..

Indonesia sejak dulu kala….slalu dipuja-puja bangsa..

Disana ..tempat lahir beta, dibuai dibesarkan Bunda…

Tempat berlindung di hari tua…sampai akhir menutup mata…

 

Sabtu pagi itu, 23 Agustus 2008 waktu Kanada, seperti kebiasaan saya di akhir pekan, saya lari pagi dari Surrey Gardens, Callingwood, menuju Wolf Willow road, lalu berbelok ke kanan di jalan setapak menuju daerah berhutan dan pepohonan di daerah Westridge Park.

 

Begitulah, lagu di awal tulisan ini begitu saja muncul di kepala saya saat dengan nafas terengah-engah saya beristirahat di tempat favorit saya, di jembatan kayu yang menghubungkan jalan setapak di dalam areal hutan itu. Entah kenapa tiba-tiba lagu itu muncul di kepala saya. Mungkin karena suasana areal perhutanan itu mengingatkan saya pada Indonesia. Kok bisa ?? Soalnya, kalo tanpa memperhatikan jenis2 pepohonan di hutan itu, jalanan setapak dan areal perhutanan itu tidak berbeda dengan jalanan setapak menuju Siuhan di Parapat, atau jalanan setapak menuju air terjun Sipiso-piso (kedua tempat ini di Sumatera Utara), atau jalanan setapak di komplek hutan Dago Pakar (Bandung) misalnya.

 

Dan begitulah, saat saya bernyanyi dan mengulang-ulang dua baris terakhir di lagu itu, tiba-tiba saja mata saya berkaca-kaca dan saya menangis, bahkan sempat terisak.. Baca lebih lanjut

(Ternyata) Bukan hanya yang uzur yang mengisi gereja di Edmonton..

Saya masih ingat bahwa salah satu pesan ‘sponsor’ yang paling dominan dari saudara-saudara dan keluarga saya sesaat sebelum saya berangkat ke Kanada adalah : “selalu ingat Tuhan, segera cari gereja terdekat sesampainya di Kanada,dan jangan lupa ke gereja setiap minggu”.

 

Pesan sponsor ini sebagian besar dilandasi kekhawatiran mereka bahwa di negara-negara bule/Barat (termasuk Kanada), nilai-nilai Kristiani sudah mulaiberkurang, orang-orang terutama generasi muda sudah lebih memilih tidak beragama dan tidak percaya akan adanya Yang Maha Kuasa. Apalagi seorang sepupu istri saya yang sedang menempuh S2 di Jerman beberapa kali bercerita bahwa gereja-gereja di Jerman setiap minggu isinya cuma orang-orang yang sudah uzur, jarang ada orang muda apalagi anak-anak muda. Anak-anak muda sudah tidak pengen lagi ke gereja dan  umumnya tidak percaya kalau Tuhan itu ada.

Baca lebih lanjut

The 2nd milestone…

Kemarin (5 Jun 2008), blog ini mencapai milestone kedua yaitu hit ke 1000 🙂

Milestone kedua ini dicapai kira-kira 1 bulan 13 hari sejak milestone pertama (hit ke 100). Gak terlalu impressive sih, tapi aku sudah senang banget dengan progress ini 🙂

Terima kasih buat semua yang sudah pernah berkunjung ke blog ini. Ditunggu kunjungan2 berikutnya dan jangan lupa ajak2 yang lain ya..hehe

Yuk..sekarang menuju milestone ke-3 (hit ke -10.000)…

Met akhir pekan semuanya … 

Mau ngapain kalo punya 18000 trilyun Rupiah?

Ahmad Zaini SupartaApa yang akan Anda lakukan kalau punya 18000 trilyun rupiah ? Uang sebanyak itu kira-kira 20 kali APBN Indonesia, dan sudah pasti yang punya uang sebanyak itu bakal pusing buat memakainya, apalagi menghabiskannya. Kalau ditaruh di bank saja, setiap kali ayam berkokok di pagi hari pasti sudah nambah lagi jumlahnya sebanyak 0.35 trilyun (350 milyar rupiah), itu dengan asumsi bunga bank = 7% flat dalam setahun. Jangan kata menghabiskan ‘induknya’ yang 18000 trilyun, menghabiskan uang 350 milyar dalam sehari saja sudah susah minta ampun.

 

Kepusingan itulah yang tentu mendera Ahmad Zaini Suparta (selanjutnya kita akan singkat sebagai AZS saja), pria berusia 52 tahun asal Tasikmalaya yang beberapa hari terakhir ini begitu kondang karena mengaku punya uang sebanyak 18000 trilyun rupiah (lihat berita selengkapnya, salah satunya di KOMPAS.com) .

 

Baca lebih lanjut

TERIMA KASIH TUHAN..WORK PERMIT-KU AKHIRNYA DATANG JUGA!

Hari ini aku terima sebuah amplop tertutup melalui Canadian Visa Application Centre di Plaza ABDA. Begitu amplop itu kubuka, di dalamnya ada passport-ku dan sepucuk surat. Puji Tuhan, ternyata aplikasi visaku untuk bekerja di Kanada sudah disetujui. Satu halaman passport-ku sudah dihiasi dengan work permit dari pemerintah Kanada. Surat yang terlampir berisi ucapan selamat dari Pemerintah Kanada plus beberapa keterangan formalisasi saat mendarat pertama kali kelak.

 

Proses yang mendebarkan selama menunggu datangnya izin kerja ini akhirnya selesai juga. Berarti mulai hari ini, kapan saja aku bisa berangkat ke tempat kerja baruku di Edmonton, Kanada.

 

Terima kasih Tuhan.., tidak akan pernah ada kata atau perbuatanku yang cukup untuk menunjukkan rasa syukurku atas segala yang Engkau berikan…..Kehidupan, keluarga, kesehatan, pekerjaan, rejeki, kesempatan, dan segalanya yang kudapatkan dalam 32 tahun kehidupan yang aku sudah jalani.

 

Sekarang tinggal satu proses mendebarkan yang masih kujalani dan kunantikan berakhirnya. Kedatangan Adek Bayi, anak pertama kami.

 

Begitu banyak kejadian yang harus dijalani oleh aku dan istriku terutama di tahun pertama pernikahan kami. Malah rasanya terlalu banyak sehingga kami terkadang mengalami bingung, cemas dan bimbang. Karena itu Tuhan..aku mohon temani kami selalu dan buatlah agar semuanya itu benar-benar menjadi indah pada waktunya. Amin..

ADA DIANTARA BANGSA KITA YANG KINI DIBERI MAKAN SEPERTI (MAAF) HEWAN…

Pagi ini aku lewat Lenteng Agung seperti biasa, dalam perjalanan menuju kantor dari arah Depok. Tepat sesudah lewat stasiun KA, kira-kira 10 m ke depan di sisi sebelah kanan jalan, ada seorang pria berbaju kumuh menghitam, dengan kulit yang penuh daki yang tidak kalah menghitamnya, sedang duduk lemas di rerumputan dengan wajah memelas. Pria itu kelihatannya masih muda, mungkin belum lewat 25 tahun. Tapi wajahnya terlihat begitu nelangsa, matanya nyaris kosong, seolah tidak hirau dengan riuhnya kendaraan bermotor di sekitarnya.

 

Tiba-tiba, dari sebuah mobil yang melintas, ada tangan yang terjulur melemparkan roti ke arah si pria. Baca lebih lanjut

Hari gene masih mau nipu via SMS?

Tipu-tipu via smsIlustrasi ini saya ambil dari sms yang masuk ke HP saya pagi ini. Kalau dihitung-hitung dari awal Januari 2008, sudah kira-kira 6 kali saya nerima sms yang mirip-mirip begini. Ada kalanya saya diamkan aja, terkadang saya reply juga sekedar bales ngisengin. Seperti pagi ini, saya reply aja begini : ‘ Makasih…langsung transfer aja ya ke rekeningku. Ditunggu lho +777’.  Dan seperti sudah diduga, tidak ada balasan lagi sesudah itu J Dulu-dulu, pernah saya balas dengan memaki-maki pake bahasa daerah saya, syukur2 kalo si pengirim mudheng artinya ..hehe

 

Mbok ya kalo mau nipu bisa lebih kreatif dan inovatif lagi, minimal sedikit gagap teknologi lah. Mana ada yang mau percaya kalo +777 adanya di akhir pesan, bukan tampil sebagai identitas sipengirim di ‘From’.

 

Terlepas dari itu, satu yang menjadi keheranan saya adalah fakta bahwa si pengirim sms ini tahu kalau saya memang pernah menukar poin TELKOMSEL saya dalam bentuk ikut undian TELKOMSEL via nomer 777. Patut saya pertanyakan kemampuan TELKOMSEL dalam melindungi kerahasiaan data pelanggannya sehingga penggunaan data pelanggan untuk tujuan-tujuan tidak baik seperti ini bisa dicegah.

 

Kalau kebetulan ada orang TELKOMSEL yang ngunjungin blog ini, monggo ngasih komentar , penjelasan dan syukur-syukur ada perbaikan buat mencegah kejadian yang sama ke sekian juta pelanggan lainnya.