Category Archives: Personal matters

Kartu Natal Masih Laris di Edmonton..

kartunatal

Ada satu tradisi menjelang hari Natal yang sekarang sudah mulai ditinggalkan orang-orang di Indonesia, termasuk saya sendiri waktu terakhir merayakan Natal di Indonesia.

Tradisi yang saya maksudkan adalah mengirimkan atau memberikan kartu ucapan selamat Natal kepada saudara, teman , relasi dan orang-orang yang kita kenal.

Saya masih ingat zaman saya kecil dulu sampai saya kuliah, tradisi mengirimkan kartu Natal masih jamak dilakukan. Waktu saya sudah kuliah di Bandung pun, setiap menjelang hari Natal saya selalu sibuk membeli banyak kartu Natal, menuliskan lalu mengirimkannya via kantor pos ke orangtua, paman, tante, teman dan banyak lagi.

Tetapi sejak hand-phone dan internet (terutama email) menjadi sesuatu yang trend di masyarakat, budaya mengirimkan kartu Natal pelan-pelan ditinggalkan dan digantikan oleh SMS maupun email.  Beberapa tahun belakangan ini, saya nyaris tidak pernah lagi menerima kartu Natal. Semuanya digantikan oleh aneka jenis SMS Natal maupun email-email Natal lengkap dengan segala jenis animasinya.

Makanya saya jadi kaget sendiri saat beberapa hari menjelang Natal pertama saya di Edmonton, saya mulai menerima kartu-kartu Natal dari teman-teman sekantor, bahkan dari wanita tua mantan tetangga saya waktu masih tinggal di Surrey Gardens beberapa bulan lalu.

Ternyata budaya mengirimkan kartu Natal ditambah dengan ucapan selamat Natal menggunakan tulisan tangan masih ‘hidup’ di Edmonton. Saya yang karena terpengaruh kebiasaan waktu masih di Indonesia tadinya sudah siap-siap dengan berbagai aneka SMS dan format email Natal menjadi malu sendiri. Waktu saya tanya kenapa masih rajin mengirimkan kartu Natal, tidak pake SMS saja, seorang teman orang India yang memberikan kartu Natal ke saya (meskipun dia tidak merayakan Natal)  menjawab bahwa kartu Natal memberikan sentuhan personal, spesial dan akan lebih diingat daripada SMS ataupun email.

Saya kira teman saya itu benar. Karenanya Natal tahun depan saya bertekad akan menghidupkan lagi kebiasaan lama itu, memberikan kartu Natal kepada saudara, teman-teman dan orang-orang terdekat di hati.

Selamat Hari Natal 25 Desember 2008 dan Tahun Baru 2009 buat Anda semua yang mengunjungi blog ini…Semoga Natal membawa damai sukacita buat kita semua, sekaligus membawa harapan baru untuk menghadapi berbagai ketidakpastian dan apapun sumber kekhawatiran di Tahun Baru menjelang.  

Mohon maaf kalau kartu Natal belum ada tahun ini… 🙂

AKU ORANG INDONESIA !!

merah-putihDari seluruh karyawan Colt WorleyParsons Edmonton, Canada yang jumlahnya sekarang kira-kira 2000an orang, hanya ada 2 (dua) orang karyawan berkebangsaan Indonesia. Saya dan seorang teman saya, Pak Sugeng Pariono, seorang Process Engineer.

 

Dibandingkan karyawan expat lainnya terutama yang berkebangsaan India, Philippine, China, dan Iran, maka jumlah dua orang Indonesia ini sungguh amat tidak significant. Karyawan berkebangsaan Rusia, Venezuela dan lain-lainnya malah masih jauh lebih banyak daripada bangsa Indonesia. Baca lebih lanjut

Kembali utuh..

new-lifeHampir dua minggu saya tidak pernah ngupdate blog ini…Bukannya malas menulis, tetapi saya menghilang selama dua minggu dalam rangka menempuh perjalanan panjang dari Edmonton kembali ke Pematang Siantar buat jemput istriku Ondang dan bayi kecil kami, Felicia….kemudian kembali lagi ke Edmonton.

Perjalanan yang sangat melelahkan dan sudah pasti mengganggu jam metabolisme tubuh saya akibat perbedaan waktu yang sampai 14 jam antara Siantar dengan Edmonton. Dalam perjalanan bolak balik ini, saya sendiri total menghabiskan waktu kira-kira 36 jam di udara plus 20an jam transit di beberapa tempat. Kembali ke Edmonton adalah perjalanan yang paling berat, karena kami membawa bayi dan segala perlengkapannya, ditambah tangisan2nya selama dalam penerbangan, mengganti pampers-nya di dalam toilet pesawat yang kecil dan diganggu turbulensi yang tiba-tiba…dan pernak-pernik lainnya yang harus dihadapi jika terbang dengan bayi. Untung Ibu mertua menyertai kami dalam perjalanan ini, sehingga ada yang bisa bantu menjaga Felicia..

Tetapi semua kesusahpayahan itu hanyalah sebutir pasir hitam diantara tak berhingga pasir putih di pantai kebahagiaan yang tercipta karena kini kami bertiga kembali utuh sebagai keluarga. Seperti dulu lagi…dan apakah yang lebih berharga di dunia ini daripada bisa bersama-sama dengan keluarga, bersama-sama dengan orang-orang yang kita kasihi ?

Semakin lengkap kebahagiaan saya melihat Felicia dan istri ternyata tidak sampai sakit karena perbedaan iklim yang sangat drastis ini…Langkah pertama untuk meraih kehidupan yang lebih baik buat keluarga sudah kami tapaki bersama, semoga merupakan langkah yang terberkati dan sesuai dengan rencanaNya.

Akhh…nikmatnya pagi-pagi menikmati kopi dan sarapan buatan istriku…bangganya bisa bawa masakan istri ke kantor buat makan siang….dan bahagianya bisa melihat ketawa lebar dari anakku Felicia.

duh-ketawanya

Terima kasih Tuhan….

Harta yang tiada habisnya….(bagian pertama)

Kalau pertanyaan ‘apakah harta yang tiada habisnya’ ditanyakan kepada saya, maka jawaban saya ada 2 (dua) :

  1. Pendidikan
  2. Emotional bank account (EBA)

 

Kenapa jawaban saya seperti itu, sangat terkait dengan apa yang sudah saya alami selama masa-masa menjalani hidup di dunia hingga saat ini.

 

Yang pertama soal pendidikan adalah berdasarkan apa yang saya lihat terjadi pada keluarga (alm) Bapak saya dibandingkan dengan apa yang terjadi pada Paman saya (marga Situngkir, lihat lagi kisah ‘Andai dulu tidak ada yang mau nyekolahin’ buat yang belum tahu background hubungan saya dengan beliau) dan terutama apa yang saya sudah alami sendiri.

 

Kakek saya dari pihak Bapak pada suatu masa pernah menjadi salah satu orang terkaya (dalam konteks harta benda) di Pematang Siantar. Jangan kira bahwa orang kaya di Pematang Siantar tidak ada apa-apanya dibandingkan orang kaya di Jakarta. Zaman antara tahun 1960 s/d medio 1970-an itu, tidak ada di Pematang Siantar yang tidak kenal Galang Simanjuntak, alias GS. Berdasarkan cerita, Kakek saya pernah punya rumah sampai 20 pintu di jalan Merdeka (ini jalan protokol di Pematang Siantar, pusat niaga semacam Sudirman). Zaman dulu orang memakai ‘pintu’ sebagai satuan rumah. Kalau seandainya sampai hari ini masih punya rumah sebanyak itu di jalan Merdeka, nilai assetnya bisa mencapai 40an milyar rupiah, dengan asumsi satu rumah sekitar rata2 2 M (saya gak tahu harga sekarang, mungkin lebih). Baca lebih lanjut

Indonesia, sampai akhir menutup mata..

Indonesia tanah air beta..

Pusaka abadi nan jaya..

Indonesia sejak dulu kala….slalu dipuja-puja bangsa..

Disana ..tempat lahir beta, dibuai dibesarkan Bunda…

Tempat berlindung di hari tua…sampai akhir menutup mata…

 

Sabtu pagi itu, 23 Agustus 2008 waktu Kanada, seperti kebiasaan saya di akhir pekan, saya lari pagi dari Surrey Gardens, Callingwood, menuju Wolf Willow road, lalu berbelok ke kanan di jalan setapak menuju daerah berhutan dan pepohonan di daerah Westridge Park.

 

Begitulah, lagu di awal tulisan ini begitu saja muncul di kepala saya saat dengan nafas terengah-engah saya beristirahat di tempat favorit saya, di jembatan kayu yang menghubungkan jalan setapak di dalam areal hutan itu. Entah kenapa tiba-tiba lagu itu muncul di kepala saya. Mungkin karena suasana areal perhutanan itu mengingatkan saya pada Indonesia. Kok bisa ?? Soalnya, kalo tanpa memperhatikan jenis2 pepohonan di hutan itu, jalanan setapak dan areal perhutanan itu tidak berbeda dengan jalanan setapak menuju Siuhan di Parapat, atau jalanan setapak menuju air terjun Sipiso-piso (kedua tempat ini di Sumatera Utara), atau jalanan setapak di komplek hutan Dago Pakar (Bandung) misalnya.

 

Dan begitulah, saat saya bernyanyi dan mengulang-ulang dua baris terakhir di lagu itu, tiba-tiba saja mata saya berkaca-kaca dan saya menangis, bahkan sempat terisak.. Baca lebih lanjut

(Ternyata) Bukan hanya yang uzur yang mengisi gereja di Edmonton..

Saya masih ingat bahwa salah satu pesan ‘sponsor’ yang paling dominan dari saudara-saudara dan keluarga saya sesaat sebelum saya berangkat ke Kanada adalah : “selalu ingat Tuhan, segera cari gereja terdekat sesampainya di Kanada,dan jangan lupa ke gereja setiap minggu”.

 

Pesan sponsor ini sebagian besar dilandasi kekhawatiran mereka bahwa di negara-negara bule/Barat (termasuk Kanada), nilai-nilai Kristiani sudah mulaiberkurang, orang-orang terutama generasi muda sudah lebih memilih tidak beragama dan tidak percaya akan adanya Yang Maha Kuasa. Apalagi seorang sepupu istri saya yang sedang menempuh S2 di Jerman beberapa kali bercerita bahwa gereja-gereja di Jerman setiap minggu isinya cuma orang-orang yang sudah uzur, jarang ada orang muda apalagi anak-anak muda. Anak-anak muda sudah tidak pengen lagi ke gereja dan  umumnya tidak percaya kalau Tuhan itu ada.

Baca lebih lanjut

Satu rumah, sembilan (asal) bangsa..

Membaca judul di atas, mungkin Anda membayangkan suatu konferensi antar bangsa, atau salah satu rapat dewan keamanan PBB, atau hal-hal ‘besar’ lain sejenisnya.

 

Tetapi yang ingin saya ceritakan sebenarnya hanya sebuah acara barbeque kecil, di rumah teman baru saya Thai Banh di Edmonton. Dia mengundang kira-kira 8 orang, beberapa di antara mereka datang dengan anak istri. Yang lain (termasuk saya), datang sendirian. Selain dengan Thai Banh dan istrinya, saya belum pernah berkenalan dengan yang lainnya.

 

Tidak berapa lama setelah saling berkenalan, kami menyadari bahwa Thai Banh, istrinya dan delapan orang yang diundang Thai Banh datang dari sembilan negara dan kebangsaan yang berbeda !!

 

Baca lebih lanjut

Bekerja di negeri orang.. (bagian keempat dan terakhir)

Saat sedang di puncak karir di Volex, adik saya yang nomer 4 (Ferdinand), lulus SMA dan memutuskan berangkat ke Yogya buat menempuh kuliah. Berarti sudah tiga orang adik saya yang berada di pulau Jawa. Yang nomer dua menempuh kuliah di UGM, yang nomer tiga menempuh kuliah di IPB, dan sekarang Ferdinand juga ikut ke Yogya. Dengan Ferdinand siap masuk kuliah, mau engga mau budget expense bulanan saya tentu bertambah lagi sekitar 30%. Beda umur saya dengan adik yang nomer dua sekitar 4 tahun, jadi saat di tahun 2002 itu Ferdinand masuk kuliah, adik saya yang nomer dua masih belum bekerja. Otomatis masih saya sendiri yang sudah produktif di keluarga kami buat sokong biaya sekolah sekeluarga (buat yang sedikit bingung, silahkan baca tulisan saya dengan judul “ Andai dulu tidak ada yang mau nyekolahin “).

 

Sebagaimana perusahaan manufacturing pada umumnya, tentu kenaikan gaji tahunan ada di average 15%, maksimal 20%. Jadi kalau mau kenaikan 30%, saya mau engga mau kembali  cari-cari kerjaan baru, plus dengan tambahan niat pindah ke Jakarta. Dengan berada di Jakarta, saya bisa lebih dekat dengan ketiga adik2 saya, sehingga kalau ada apa-apa saya bisa lebih gampang aksesnya.

 

Baca lebih lanjut

Bekerja di negeri orang .. (bagian ketiga)

Di luar dugaan saya, calon employer saya di Kanada ternyata sangat pengertian. Mereka bisa saja dengan mudah bilang ‘take it or leave it’, tetapi sebaliknya mereka malah sangat mendukung pentingnya saya hadir menemani istri saat melahirkan dan beberapa saat sesudahnya. Lega rasanya hati ini saat mendapatkan persetujuan pengunduran jadwal keberangkatan ke bulan Juli 2008.

 

Saya secepatnya memulai proses pengurusan izin kerja, soalnya kata teman2 bisa makan waktu antara 3 minggu sampai 1 bulan. Untuk kasus saya, mungkin karena merupakan transfer ke group perusahaan yang sama, prosesnya lumayan cepat. Saya hitung-hitung sejak saat masukin dokumen sampai keluarnya visa kerja, cuma makan waktu sekitar 2 minggu.

 

Proses yang makan waktu lebih lama ternyata proses mencari pengganti (sedikit ironis juga, padahal katanya di Indonesia banyak sekali pencari kerja ..). Dari sekian banyak CV yang masuk, hanya ada sekitar 6 orang yang dianggap layak buat interview (setelah kira2 1.5 bulan proses cari CV !!). Selanjutnya proses interview yang makan waktu kira2 2 minggu. Dari 6 yang diinterview, 4 dikategorikan ‘waste of time’ oleh Boss saya di Regional. Hanya dua orang yang dikategorikan boleh dipertimbangkan. Milih satu dari antara dua juga proses yang panjang, kira-kira 2 minggu, belum lagi offering, mobilisasi, dan hand-over ..

 

Kalau saya flash back perjalanan karir saya, saya yakin memang sudah diatur Yang Maha Kuasa sehingga jalannya seperti yang saya alami sekarang. Mungkin kalau saya dulu ngotot berpindah karir, bisa jadi karir saya masih begitu2 saja…

 

Saya lulus sebagai Chemical Engineer dari Teknik Kimia ITB, tetapi sejak pertama kerja saya tidak pernah menjadi process engineer atau sejenisnya. Sejak pekerjaan pertama, saya sudah ditugaskan menangani urusan quality. Baca lebih lanjut