Rubrik QMS Pindah Rumah…

Salam …

Terhitung mulai hari ini, 25 Oktober 2008, halaman Rubrik QMS di Blognya Baja resmi pindah rumah ke www.rubrikqms.wordpress.com .

Kalo orang Batak bilang, ini namanya ‘manjae’, alias memulai kehidupan sendiri lepas dari orangtua..hehe… Kalo dianggap ‘Blognya Baja’ sebagai rumah ortunya Rubrik QMS, maka sekarang Rubrik QMS punya rumah sendiri dan hidup sendiri.

Harapannya, ke depan akan lebih fokus, apalagi pembaca di Blognya Baja ternyata terpisah secara jelas antara yang memang ingin baca Rubrik QMS, dengan yang ingin baca tentang kisah-kisah si Baja… 🙂

Terima kasih buat Anda semua yang sudah pernah (dan masih) singgah di sini…Dukungan, ketertarikan dan komentar-komentar Anda yang membuat saya semangat menulis…

Sampai jumpa dengan pembaca Rubrik QMS di rumah barunya…

Salam dan Tuhan berkati,

L.Erwin Baja Simanjuntak

Iklan

Harta yang tiada habisnya….(bagian pertama)

Kalau pertanyaan ‘apakah harta yang tiada habisnya’ ditanyakan kepada saya, maka jawaban saya ada 2 (dua) :

  1. Pendidikan
  2. Emotional bank account (EBA)

 

Kenapa jawaban saya seperti itu, sangat terkait dengan apa yang sudah saya alami selama masa-masa menjalani hidup di dunia hingga saat ini.

 

Yang pertama soal pendidikan adalah berdasarkan apa yang saya lihat terjadi pada keluarga (alm) Bapak saya dibandingkan dengan apa yang terjadi pada Paman saya (marga Situngkir, lihat lagi kisah ‘Andai dulu tidak ada yang mau nyekolahin’ buat yang belum tahu background hubungan saya dengan beliau) dan terutama apa yang saya sudah alami sendiri.

 

Kakek saya dari pihak Bapak pada suatu masa pernah menjadi salah satu orang terkaya (dalam konteks harta benda) di Pematang Siantar. Jangan kira bahwa orang kaya di Pematang Siantar tidak ada apa-apanya dibandingkan orang kaya di Jakarta. Zaman antara tahun 1960 s/d medio 1970-an itu, tidak ada di Pematang Siantar yang tidak kenal Galang Simanjuntak, alias GS. Berdasarkan cerita, Kakek saya pernah punya rumah sampai 20 pintu di jalan Merdeka (ini jalan protokol di Pematang Siantar, pusat niaga semacam Sudirman). Zaman dulu orang memakai ‘pintu’ sebagai satuan rumah. Kalau seandainya sampai hari ini masih punya rumah sebanyak itu di jalan Merdeka, nilai assetnya bisa mencapai 40an milyar rupiah, dengan asumsi satu rumah sekitar rata2 2 M (saya gak tahu harga sekarang, mungkin lebih). Baca lebih lanjut

Indonesia, sampai akhir menutup mata..

Indonesia tanah air beta..

Pusaka abadi nan jaya..

Indonesia sejak dulu kala….slalu dipuja-puja bangsa..

Disana ..tempat lahir beta, dibuai dibesarkan Bunda…

Tempat berlindung di hari tua…sampai akhir menutup mata…

 

Sabtu pagi itu, 23 Agustus 2008 waktu Kanada, seperti kebiasaan saya di akhir pekan, saya lari pagi dari Surrey Gardens, Callingwood, menuju Wolf Willow road, lalu berbelok ke kanan di jalan setapak menuju daerah berhutan dan pepohonan di daerah Westridge Park.

 

Begitulah, lagu di awal tulisan ini begitu saja muncul di kepala saya saat dengan nafas terengah-engah saya beristirahat di tempat favorit saya, di jembatan kayu yang menghubungkan jalan setapak di dalam areal hutan itu. Entah kenapa tiba-tiba lagu itu muncul di kepala saya. Mungkin karena suasana areal perhutanan itu mengingatkan saya pada Indonesia. Kok bisa ?? Soalnya, kalo tanpa memperhatikan jenis2 pepohonan di hutan itu, jalanan setapak dan areal perhutanan itu tidak berbeda dengan jalanan setapak menuju Siuhan di Parapat, atau jalanan setapak menuju air terjun Sipiso-piso (kedua tempat ini di Sumatera Utara), atau jalanan setapak di komplek hutan Dago Pakar (Bandung) misalnya.

 

Dan begitulah, saat saya bernyanyi dan mengulang-ulang dua baris terakhir di lagu itu, tiba-tiba saja mata saya berkaca-kaca dan saya menangis, bahkan sempat terisak.. Baca lebih lanjut

(Ternyata) Bukan hanya yang uzur yang mengisi gereja di Edmonton..

Saya masih ingat bahwa salah satu pesan ‘sponsor’ yang paling dominan dari saudara-saudara dan keluarga saya sesaat sebelum saya berangkat ke Kanada adalah : “selalu ingat Tuhan, segera cari gereja terdekat sesampainya di Kanada,dan jangan lupa ke gereja setiap minggu”.

 

Pesan sponsor ini sebagian besar dilandasi kekhawatiran mereka bahwa di negara-negara bule/Barat (termasuk Kanada), nilai-nilai Kristiani sudah mulaiberkurang, orang-orang terutama generasi muda sudah lebih memilih tidak beragama dan tidak percaya akan adanya Yang Maha Kuasa. Apalagi seorang sepupu istri saya yang sedang menempuh S2 di Jerman beberapa kali bercerita bahwa gereja-gereja di Jerman setiap minggu isinya cuma orang-orang yang sudah uzur, jarang ada orang muda apalagi anak-anak muda. Anak-anak muda sudah tidak pengen lagi ke gereja dan  umumnya tidak percaya kalau Tuhan itu ada.

Baca lebih lanjut

Satu rumah, sembilan (asal) bangsa..

Membaca judul di atas, mungkin Anda membayangkan suatu konferensi antar bangsa, atau salah satu rapat dewan keamanan PBB, atau hal-hal ‘besar’ lain sejenisnya.

 

Tetapi yang ingin saya ceritakan sebenarnya hanya sebuah acara barbeque kecil, di rumah teman baru saya Thai Banh di Edmonton. Dia mengundang kira-kira 8 orang, beberapa di antara mereka datang dengan anak istri. Yang lain (termasuk saya), datang sendirian. Selain dengan Thai Banh dan istrinya, saya belum pernah berkenalan dengan yang lainnya.

 

Tidak berapa lama setelah saling berkenalan, kami menyadari bahwa Thai Banh, istrinya dan delapan orang yang diundang Thai Banh datang dari sembilan negara dan kebangsaan yang berbeda !!

 

Baca lebih lanjut

Bekerja di negeri orang.. (bagian keempat dan terakhir)

Saat sedang di puncak karir di Volex, adik saya yang nomer 4 (Ferdinand), lulus SMA dan memutuskan berangkat ke Yogya buat menempuh kuliah. Berarti sudah tiga orang adik saya yang berada di pulau Jawa. Yang nomer dua menempuh kuliah di UGM, yang nomer tiga menempuh kuliah di IPB, dan sekarang Ferdinand juga ikut ke Yogya. Dengan Ferdinand siap masuk kuliah, mau engga mau budget expense bulanan saya tentu bertambah lagi sekitar 30%. Beda umur saya dengan adik yang nomer dua sekitar 4 tahun, jadi saat di tahun 2002 itu Ferdinand masuk kuliah, adik saya yang nomer dua masih belum bekerja. Otomatis masih saya sendiri yang sudah produktif di keluarga kami buat sokong biaya sekolah sekeluarga (buat yang sedikit bingung, silahkan baca tulisan saya dengan judul “ Andai dulu tidak ada yang mau nyekolahin “).

 

Sebagaimana perusahaan manufacturing pada umumnya, tentu kenaikan gaji tahunan ada di average 15%, maksimal 20%. Jadi kalau mau kenaikan 30%, saya mau engga mau kembali  cari-cari kerjaan baru, plus dengan tambahan niat pindah ke Jakarta. Dengan berada di Jakarta, saya bisa lebih dekat dengan ketiga adik2 saya, sehingga kalau ada apa-apa saya bisa lebih gampang aksesnya.

 

Baca lebih lanjut