Tag Archives: Edmonton

Pemalak dan peminta-minta ala Edmonton..

p21705142Buat yang sering naik kendaraan umum di Jakarta (utamanya Metromini dan Bis kota), tentu pernah atau malah sering ketemu dengan ‘Abang-Abang’ atau ‘Bapak-Bapak’ yang membawa secarik kertas untuk kemudian ditunjukkan sesudah kendaraan umum melaju. Biasanya mereka akan maju ke depan, ke daerah di dekat kursi pengemudi dan menunjukkan kertas tersebut sambil bercerita, entah itu tentang baru di PHK, atau tentang anaknya yang sedang sakit dan harus ditebus dari RS, atau bahkan baru keluar dari penjara.

 

Umumnya di akhir cerita, si Abang-Abang atau Bapak-Bapak ini kemudian menutup dengan perkataan sejenis ini : ‘saya minta perhatian dan sumbangan dari Bapak, Ibu, saudara-saudari sekalian, daripada saya merampok …”. Ditambah dengan tampang si pencerita yang umumnya sangar plus tato di anggota tubuh maka lengkaplah ‘pemerasaan’ atau ‘pemalakan’ halus tersebut. Penumpang yang udah keder duluan biasanya tanpa banyak cing cong akan memasukkan uang 500 atau 1000 rupiah ke dalam kantong plastik (umumnya bekas bungkus permen) yang diedarkan si Abang-Abang / Bapak-Bapak itu. Baca lebih lanjut

Iklan

Kartu Natal Masih Laris di Edmonton..

kartunatal

Ada satu tradisi menjelang hari Natal yang sekarang sudah mulai ditinggalkan orang-orang di Indonesia, termasuk saya sendiri waktu terakhir merayakan Natal di Indonesia.

Tradisi yang saya maksudkan adalah mengirimkan atau memberikan kartu ucapan selamat Natal kepada saudara, teman , relasi dan orang-orang yang kita kenal.

Saya masih ingat zaman saya kecil dulu sampai saya kuliah, tradisi mengirimkan kartu Natal masih jamak dilakukan. Waktu saya sudah kuliah di Bandung pun, setiap menjelang hari Natal saya selalu sibuk membeli banyak kartu Natal, menuliskan lalu mengirimkannya via kantor pos ke orangtua, paman, tante, teman dan banyak lagi.

Tetapi sejak hand-phone dan internet (terutama email) menjadi sesuatu yang trend di masyarakat, budaya mengirimkan kartu Natal pelan-pelan ditinggalkan dan digantikan oleh SMS maupun email.  Beberapa tahun belakangan ini, saya nyaris tidak pernah lagi menerima kartu Natal. Semuanya digantikan oleh aneka jenis SMS Natal maupun email-email Natal lengkap dengan segala jenis animasinya.

Makanya saya jadi kaget sendiri saat beberapa hari menjelang Natal pertama saya di Edmonton, saya mulai menerima kartu-kartu Natal dari teman-teman sekantor, bahkan dari wanita tua mantan tetangga saya waktu masih tinggal di Surrey Gardens beberapa bulan lalu.

Ternyata budaya mengirimkan kartu Natal ditambah dengan ucapan selamat Natal menggunakan tulisan tangan masih ‘hidup’ di Edmonton. Saya yang karena terpengaruh kebiasaan waktu masih di Indonesia tadinya sudah siap-siap dengan berbagai aneka SMS dan format email Natal menjadi malu sendiri. Waktu saya tanya kenapa masih rajin mengirimkan kartu Natal, tidak pake SMS saja, seorang teman orang India yang memberikan kartu Natal ke saya (meskipun dia tidak merayakan Natal)  menjawab bahwa kartu Natal memberikan sentuhan personal, spesial dan akan lebih diingat daripada SMS ataupun email.

Saya kira teman saya itu benar. Karenanya Natal tahun depan saya bertekad akan menghidupkan lagi kebiasaan lama itu, memberikan kartu Natal kepada saudara, teman-teman dan orang-orang terdekat di hati.

Selamat Hari Natal 25 Desember 2008 dan Tahun Baru 2009 buat Anda semua yang mengunjungi blog ini…Semoga Natal membawa damai sukacita buat kita semua, sekaligus membawa harapan baru untuk menghadapi berbagai ketidakpastian dan apapun sumber kekhawatiran di Tahun Baru menjelang.  

Mohon maaf kalau kartu Natal belum ada tahun ini… 🙂

Kembali utuh..

new-lifeHampir dua minggu saya tidak pernah ngupdate blog ini…Bukannya malas menulis, tetapi saya menghilang selama dua minggu dalam rangka menempuh perjalanan panjang dari Edmonton kembali ke Pematang Siantar buat jemput istriku Ondang dan bayi kecil kami, Felicia….kemudian kembali lagi ke Edmonton.

Perjalanan yang sangat melelahkan dan sudah pasti mengganggu jam metabolisme tubuh saya akibat perbedaan waktu yang sampai 14 jam antara Siantar dengan Edmonton. Dalam perjalanan bolak balik ini, saya sendiri total menghabiskan waktu kira-kira 36 jam di udara plus 20an jam transit di beberapa tempat. Kembali ke Edmonton adalah perjalanan yang paling berat, karena kami membawa bayi dan segala perlengkapannya, ditambah tangisan2nya selama dalam penerbangan, mengganti pampers-nya di dalam toilet pesawat yang kecil dan diganggu turbulensi yang tiba-tiba…dan pernak-pernik lainnya yang harus dihadapi jika terbang dengan bayi. Untung Ibu mertua menyertai kami dalam perjalanan ini, sehingga ada yang bisa bantu menjaga Felicia..

Tetapi semua kesusahpayahan itu hanyalah sebutir pasir hitam diantara tak berhingga pasir putih di pantai kebahagiaan yang tercipta karena kini kami bertiga kembali utuh sebagai keluarga. Seperti dulu lagi…dan apakah yang lebih berharga di dunia ini daripada bisa bersama-sama dengan keluarga, bersama-sama dengan orang-orang yang kita kasihi ?

Semakin lengkap kebahagiaan saya melihat Felicia dan istri ternyata tidak sampai sakit karena perbedaan iklim yang sangat drastis ini…Langkah pertama untuk meraih kehidupan yang lebih baik buat keluarga sudah kami tapaki bersama, semoga merupakan langkah yang terberkati dan sesuai dengan rencanaNya.

Akhh…nikmatnya pagi-pagi menikmati kopi dan sarapan buatan istriku…bangganya bisa bawa masakan istri ke kantor buat makan siang….dan bahagianya bisa melihat ketawa lebar dari anakku Felicia.

duh-ketawanya

Terima kasih Tuhan….

(Ternyata) Bukan hanya yang uzur yang mengisi gereja di Edmonton..

Saya masih ingat bahwa salah satu pesan ‘sponsor’ yang paling dominan dari saudara-saudara dan keluarga saya sesaat sebelum saya berangkat ke Kanada adalah : “selalu ingat Tuhan, segera cari gereja terdekat sesampainya di Kanada,dan jangan lupa ke gereja setiap minggu”.

 

Pesan sponsor ini sebagian besar dilandasi kekhawatiran mereka bahwa di negara-negara bule/Barat (termasuk Kanada), nilai-nilai Kristiani sudah mulaiberkurang, orang-orang terutama generasi muda sudah lebih memilih tidak beragama dan tidak percaya akan adanya Yang Maha Kuasa. Apalagi seorang sepupu istri saya yang sedang menempuh S2 di Jerman beberapa kali bercerita bahwa gereja-gereja di Jerman setiap minggu isinya cuma orang-orang yang sudah uzur, jarang ada orang muda apalagi anak-anak muda. Anak-anak muda sudah tidak pengen lagi ke gereja dan  umumnya tidak percaya kalau Tuhan itu ada.

Baca lebih lanjut

Satu rumah, sembilan (asal) bangsa..

Membaca judul di atas, mungkin Anda membayangkan suatu konferensi antar bangsa, atau salah satu rapat dewan keamanan PBB, atau hal-hal ‘besar’ lain sejenisnya.

 

Tetapi yang ingin saya ceritakan sebenarnya hanya sebuah acara barbeque kecil, di rumah teman baru saya Thai Banh di Edmonton. Dia mengundang kira-kira 8 orang, beberapa di antara mereka datang dengan anak istri. Yang lain (termasuk saya), datang sendirian. Selain dengan Thai Banh dan istrinya, saya belum pernah berkenalan dengan yang lainnya.

 

Tidak berapa lama setelah saling berkenalan, kami menyadari bahwa Thai Banh, istrinya dan delapan orang yang diundang Thai Banh datang dari sembilan negara dan kebangsaan yang berbeda !!

 

Baca lebih lanjut

Bekerja di negeri orang.. (bagian kedua)

Perjalanan panjang dari Jakarta menuju Edmonton akhirnya berujung pada tanggal 14 Juli 2008 jam 20.10 waktu Edmonton. Saya berangkat jam 08.40 pagi dari Jakarta di tanggal yang sama, dan setelah menempuh kira-kira 24 jam perjalanan (termasuk total sekitar 6 jam transit di Hongkong dan Vancouver) , mendarat di kota ini masih di tanggal yang sama.. (Jakarta saat itu tentu sudah tanggal 15 Juli 2008, kira-kira jam 7.20 pagi).

 

Akhir perjalanan ini sekaligus awal dari babak baru dalam perjalanan karir saya, yaitu bekerja penuh waktu di negeri orang. Saya sekarang menjadi salah satu dari ribuan TKI yang tersebar di seluruh dunia.

 

Sejak lama, keinginan untuk merasakan hidup di negeri orang (entah bekerja atau melanjutkan sekolah) sudah jadi salah satu target dalam hidup saya. Terlebih sejak saya mulai mengenal ‘dunia lain’ itu sepanjang perjalanan karir saya selama ini.

 

Meski kedengarannya klise, tapi benar saya alami sendiri apa yang saya percaya selama ini bahwa : semua akan indah pada waktunya. Sebelum akhirnya saya mendarat jadi TKI di negeri orang, entah sudah berapa kali saya ‘nyaris’ sampai di sana, tetapi selalu saja ada halangannya.

 

Baca lebih lanjut

Bekerja di negeri orang.. (bagian pertama)

Tinggal menghitung hari…tepatnya tanggal 14 Juli saya akan berangkat ke Kanada, untuk memulai babak baru dalam karir saya, yaitu bekerja di negeri orang, nun jauh di sebuah kota bernama Edmonton..

 

Saat semuanya ini masih belum terwujud – bahkan saat sudah terwujud tetapi masih lama hari-H buat berangkat – saya begitu ‘excited’ untuk menjalaninya.  Tetapi sekarang, menjelang keberangkatan, berbagai rasa campur aduk menjadi satu. Baca lebih lanjut