Tag Archives: Jakarta

Pemalak dan peminta-minta ala Edmonton..

p21705142Buat yang sering naik kendaraan umum di Jakarta (utamanya Metromini dan Bis kota), tentu pernah atau malah sering ketemu dengan ‘Abang-Abang’ atau ‘Bapak-Bapak’ yang membawa secarik kertas untuk kemudian ditunjukkan sesudah kendaraan umum melaju. Biasanya mereka akan maju ke depan, ke daerah di dekat kursi pengemudi dan menunjukkan kertas tersebut sambil bercerita, entah itu tentang baru di PHK, atau tentang anaknya yang sedang sakit dan harus ditebus dari RS, atau bahkan baru keluar dari penjara.

 

Umumnya di akhir cerita, si Abang-Abang atau Bapak-Bapak ini kemudian menutup dengan perkataan sejenis ini : ‘saya minta perhatian dan sumbangan dari Bapak, Ibu, saudara-saudari sekalian, daripada saya merampok …”. Ditambah dengan tampang si pencerita yang umumnya sangar plus tato di anggota tubuh maka lengkaplah ‘pemerasaan’ atau ‘pemalakan’ halus tersebut. Penumpang yang udah keder duluan biasanya tanpa banyak cing cong akan memasukkan uang 500 atau 1000 rupiah ke dalam kantong plastik (umumnya bekas bungkus permen) yang diedarkan si Abang-Abang / Bapak-Bapak itu. Baca lebih lanjut

Iklan

Indonesia, sampai akhir menutup mata..

Indonesia tanah air beta..

Pusaka abadi nan jaya..

Indonesia sejak dulu kala….slalu dipuja-puja bangsa..

Disana ..tempat lahir beta, dibuai dibesarkan Bunda…

Tempat berlindung di hari tua…sampai akhir menutup mata…

 

Sabtu pagi itu, 23 Agustus 2008 waktu Kanada, seperti kebiasaan saya di akhir pekan, saya lari pagi dari Surrey Gardens, Callingwood, menuju Wolf Willow road, lalu berbelok ke kanan di jalan setapak menuju daerah berhutan dan pepohonan di daerah Westridge Park.

 

Begitulah, lagu di awal tulisan ini begitu saja muncul di kepala saya saat dengan nafas terengah-engah saya beristirahat di tempat favorit saya, di jembatan kayu yang menghubungkan jalan setapak di dalam areal hutan itu. Entah kenapa tiba-tiba lagu itu muncul di kepala saya. Mungkin karena suasana areal perhutanan itu mengingatkan saya pada Indonesia. Kok bisa ?? Soalnya, kalo tanpa memperhatikan jenis2 pepohonan di hutan itu, jalanan setapak dan areal perhutanan itu tidak berbeda dengan jalanan setapak menuju Siuhan di Parapat, atau jalanan setapak menuju air terjun Sipiso-piso (kedua tempat ini di Sumatera Utara), atau jalanan setapak di komplek hutan Dago Pakar (Bandung) misalnya.

 

Dan begitulah, saat saya bernyanyi dan mengulang-ulang dua baris terakhir di lagu itu, tiba-tiba saja mata saya berkaca-kaca dan saya menangis, bahkan sempat terisak.. Baca lebih lanjut