Tag Archives: Siantar

Kembali utuh..

new-lifeHampir dua minggu saya tidak pernah ngupdate blog ini…Bukannya malas menulis, tetapi saya menghilang selama dua minggu dalam rangka menempuh perjalanan panjang dari Edmonton kembali ke Pematang Siantar buat jemput istriku Ondang dan bayi kecil kami, Felicia….kemudian kembali lagi ke Edmonton.

Perjalanan yang sangat melelahkan dan sudah pasti mengganggu jam metabolisme tubuh saya akibat perbedaan waktu yang sampai 14 jam antara Siantar dengan Edmonton. Dalam perjalanan bolak balik ini, saya sendiri total menghabiskan waktu kira-kira 36 jam di udara plus 20an jam transit di beberapa tempat. Kembali ke Edmonton adalah perjalanan yang paling berat, karena kami membawa bayi dan segala perlengkapannya, ditambah tangisan2nya selama dalam penerbangan, mengganti pampers-nya di dalam toilet pesawat yang kecil dan diganggu turbulensi yang tiba-tiba…dan pernak-pernik lainnya yang harus dihadapi jika terbang dengan bayi. Untung Ibu mertua menyertai kami dalam perjalanan ini, sehingga ada yang bisa bantu menjaga Felicia..

Tetapi semua kesusahpayahan itu hanyalah sebutir pasir hitam diantara tak berhingga pasir putih di pantai kebahagiaan yang tercipta karena kini kami bertiga kembali utuh sebagai keluarga. Seperti dulu lagi…dan apakah yang lebih berharga di dunia ini daripada bisa bersama-sama dengan keluarga, bersama-sama dengan orang-orang yang kita kasihi ?

Semakin lengkap kebahagiaan saya melihat Felicia dan istri ternyata tidak sampai sakit karena perbedaan iklim yang sangat drastis ini…Langkah pertama untuk meraih kehidupan yang lebih baik buat keluarga sudah kami tapaki bersama, semoga merupakan langkah yang terberkati dan sesuai dengan rencanaNya.

Akhh…nikmatnya pagi-pagi menikmati kopi dan sarapan buatan istriku…bangganya bisa bawa masakan istri ke kantor buat makan siang….dan bahagianya bisa melihat ketawa lebar dari anakku Felicia.

duh-ketawanya

Terima kasih Tuhan….

Iklan

Indonesia, sampai akhir menutup mata..

Indonesia tanah air beta..

Pusaka abadi nan jaya..

Indonesia sejak dulu kala….slalu dipuja-puja bangsa..

Disana ..tempat lahir beta, dibuai dibesarkan Bunda…

Tempat berlindung di hari tua…sampai akhir menutup mata…

 

Sabtu pagi itu, 23 Agustus 2008 waktu Kanada, seperti kebiasaan saya di akhir pekan, saya lari pagi dari Surrey Gardens, Callingwood, menuju Wolf Willow road, lalu berbelok ke kanan di jalan setapak menuju daerah berhutan dan pepohonan di daerah Westridge Park.

 

Begitulah, lagu di awal tulisan ini begitu saja muncul di kepala saya saat dengan nafas terengah-engah saya beristirahat di tempat favorit saya, di jembatan kayu yang menghubungkan jalan setapak di dalam areal hutan itu. Entah kenapa tiba-tiba lagu itu muncul di kepala saya. Mungkin karena suasana areal perhutanan itu mengingatkan saya pada Indonesia. Kok bisa ?? Soalnya, kalo tanpa memperhatikan jenis2 pepohonan di hutan itu, jalanan setapak dan areal perhutanan itu tidak berbeda dengan jalanan setapak menuju Siuhan di Parapat, atau jalanan setapak menuju air terjun Sipiso-piso (kedua tempat ini di Sumatera Utara), atau jalanan setapak di komplek hutan Dago Pakar (Bandung) misalnya.

 

Dan begitulah, saat saya bernyanyi dan mengulang-ulang dua baris terakhir di lagu itu, tiba-tiba saja mata saya berkaca-kaca dan saya menangis, bahkan sempat terisak.. Baca lebih lanjut